Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada
orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir
sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti
sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat
kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang
tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah
neraka.†[Ar Ra’d:35]
Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang takwa.
Yaitu orang yang mengerjakan perintah Allah dan
menjauhi larangan Allah. Oleh karena itu hendaklah
kita mempelajari apa saja larangan atau hal-hal yang
diharamkan oleh Allah SWT agar kita tahu dan tidak
mengerjakannya.
Pertama-tama kita harus tahu bahwa dosa itu adalah
hal-hal yang membuat kita gelish/tidak tenang dan malu
jika diketahui orang lain:
Dari Nawas bin Sam’an ra bahwa Nabi SAW bersabda,
“Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan
dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan
perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat
orang lain.†(HR. Muslim)
Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra dia berkata: Aku
datang kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda,
“Apakah engkau datang untuk bertanya tentang
kebajikan?†Aku berkata,†Ya.†Beliau bersabda,
“Bertanyalah kepada hatimu. Kebajikan adalah apa
yang menjadikan tenang jiwa dan hati, sedangkan dosa
adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan
keraguan dalam hati, meskipun orang-orang terus
membenarkanmu.†(Imam Ahmad bin Hambal dan Imam
Ad-Darimi)
Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi
pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai (Allah).
(HR. Aththusi)
Syirik Dosa yang Terbesar dan Tidak Diampuni Allah SWT
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia
mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
(sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.†[An Nisaa’:116]
Contoh Syirik adalah menyembah adanya Tuhan lain
selain Allah seperti Tuhan Yesus, Roh Kudus, Dewa
Matahari, Brahma, Syiwa, Wisnu, dan sebagainya.
Yang sering dilakukan ummat Islam adalah syirik kecil
seperti pergi ke Dukun atau Orang â€Pintarâ€,
memakai jimat (cincin, kalung, dsb), mempercayai
ramalan, dan sebagainya.
Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya
kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka
shalatnya selama empat puluh malam tidak akan
diterima. (HR. Muslim)
Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya
kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang
diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Abu Dawud)
Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra,
kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah
syirik. (HR. Ibnu Majah)
Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena
ramalan mujur-sial maka dia telah bersyirik kepada
Allah. Para sahabat bertanya, "Apakah penebusannya, ya
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah: "Ya Allah,
tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan
kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada ilah (tuhan
/ yang disembah) kecuali Engkau." (HR. Ahmad)
Ramalan mujur-sial adalah syirik. (Beliau
mengulanginya tiga kali) dan tiap orang pasti
terlintas dalam hatinya perasaan demikian, tetapi
Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakal.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Durhaka kepada Ibu dan Bapak (Orang Tua)
Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki
ibu-bapaknya. Mereka bertanya, "Bagaimana (mungkin)
seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?"
Nabi Saw menjawab, "Dia mencaci-maki ayah orang lain
lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia
mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun
(membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq'alaih)
Aku beritahukan yang terbesar dari dosa-dosa besar.
(Rasulullah Saw mengulangnya hingga tiga kali).
Pertama, mempersekutukan Allah. Kedua, durhaka
terhadap orang tua, dan ketiga, bersaksi palsu atau
berucap palsu. (Ketika itu beliau sedang berbaring
kemudian duduk dan mengulangi ucapannya tiga kali,
sedang kami mengharap beliau berhenti mengucapkannya).
(Mutafaq'alaih)
Membunuh Manusia yang Tidak Berdosa
â€Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi
Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang
manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka
seakan-akan dia telah membunuh manusia
seluruhnya[412]. Dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul
Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang
jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat
kerusakan dimuka bumi.†[Al Maa’idah:32]
Orang yang membunuh manusia secara zhalim (tidak dalam
rangka beladiri) dihukum qishash (bunuh):
â€Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan)
yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka
sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli
warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui
batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang
yang mendapat pertolongan.†[Al Israa’:33]
â€Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan
sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di
dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya
serta menyediakan azab yang besar baginya.†[An
Nisaa’:93]
Bunuh Diri
â€Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan
suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.†[An Nisaa’:29]
Membunuh, Berzina, dan Murtad
Dari Ibnu Mas'ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa
tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah Utusan
Allah, kecuali salah satu dari tiga orang: janda yang
berzina, pembunuh orang dan orang yang meninggalkan
agamanya berpisah dari jama'ah." Muttafaq Alaihi.
Dari 'Aisyah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak
halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari
tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia
dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan
sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama
Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh
atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya." [Abu
Dawud dan Nasa'i]
Riba (Mengambil Bunga)
Sering ada rentenir atau Bank yang menggunakan bunga
berlipat ganda hingga akhirnya orang yang tidak mampu
membayar kehilangan rumah karena disita.
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan
mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli
itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang
telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu
terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa
yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu
adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya.†[Al Baqarah:275]
â€Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam
kekafiran, dan selalu berbuat dosa†[Al Baqarah:276]
â€Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
jika kamu orang-orang yang beriman.†[Al
Baqarah:277]
Mengapa negeri kita sering dilanda bencana? Mungkin
karena zina dan riba sudah merajalela di negeri ini.
Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri
maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas
mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al
Hakim)
Menyerupai Lawan Jenis, Berzina dengan Hewan, dan
Homoseks
Sering di TV pemain pria berpakaian perempuan untuk
memancing tawa, padahal itu dosa. Laki-laki tidak
boleh berdandan dan berpakaian seperti wanita,
demikian pula sebaliknya.
Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang
hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya,
"Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Beliau lalu
menjawab, "Laki-laki yang menyerupai perempuan,
perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang
menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR.
Ahmad dan Ath-Thabrani)
Mengurangi Takaran atau Timbangan Ketika Berdagang
Sering pedagang sengaja mengurangi takaran atau
timbangan ketika berdagang agar cepat untung. Padahal
ini hanya membuat orang jadi kapok membeli di
tempatnya lagi karena sudah ditipu. Selain itu ini
adalah dosa dengan neraka Sijjiin sebagai balasannya.
Dari Ibnu Abbas dikemukakan bahwa ketika Rasulullah
saw. sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang
Madinah termasuk yang paling curang dalam takaran dan
timbangan. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.83:1,2,3)
sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam
menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Madinah
termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.
(An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
â€Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari
orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang
lain, mereka mengurangi.†[Al Muthoffifiin:1-3]
Menyembunyikan cacat barang atau barang palsu sama
dengan di atas.
Mencuri dan Minum Khamar / Minuman Keras
Banyak orang Islam yang minum bir dan minuman
beralkohol padahal itu haram.
Tiada seorang berzina selagi dia mukmin, tiada seorang
mencuri selagi dia mukmin, dan tiada seorang minum
khamar pada saat minum dia mukmin. (Mutafaq'alaih)
Tiap minuman yang memabukkan adalah haram (baik
sedikit maupun banyak). (HR. Ahmad)
Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk
surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua
orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku
dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak
perempuannya berbuat serong atau zina). (HR.
An-Nasaa'i dan Ahmad)
Jangan Membakar Makhluk Allah
Pernah kita baca ada masyarakat yang membakar pencuri
karena marah. Padahal Allah melarang kita menghukum
dengan siksaan Allah.
Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya:
menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)
Jangan Mengkafirkan Sesama Muslim
Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan
dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan
dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan
berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
Itulah daftar perbuatan dosa yang diharamkan Allah SWT
semoga kita terhindar dari itu semua. Jika ada dosa
tersebut yang kita perbuat, semoga Allah SWT memberi
kita kekuatan untuk menghentikan serta bertobat kepada
Allah SWT.
Dari Anas bin Malik ra dia berkata: Aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman,
“Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku
dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah
kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika
dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau
meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak
Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa
kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang
kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu
apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan
sebesar itu pula.†(HR. Tirmidzi,
Tidak Berdusta
â€Hai Nabi, apabila datang kepadamu
perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan
janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan
Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak
akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta
yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka
dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik,
maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah
ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah
maha Pengampun lagi Maha Penyayang.†[Al
Mumtahanah:12]
Mendapat/Membaca Informasi dari orang Fasik/Kafir
tanpa Memeriksa
Sering orang Islam mendapatkan informasi dari media
massa orang yang fasik ata kafir tanpa
tabayyuun/memeriksa berita sehingga akhirnya ummat
Islam menganggap Islam itu keras, Muslim adalah
teroris, MUI lembaga yang tidak kredibel, dan
sebagainya.
â€Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.†[Al
Hujuraat:6]
Oleh karena itu ummat Islam hendaknya mencerna
hati-hati berita dari kelompok kafir/Yahudi/Liberal
seperti dari CNN, Fox, BBC, dan sebagainya agar tidak
termakan fitnah bahwa pejuang kemerdekaan Palestina
adalah teroris sementara negara Israel yang banyak
membantai ummat Islam justru baik.
Carilah berita dari Media Islam seperti TV Al Jazeera,
Hidayatullah.com, Eramuslim.com, dan sebagainya.
Berperang/Tawuran terhadap Sesama Muslim
Ummat Islam itu bersaudara. Sayangnya ternyata banyak
peperangan/tawuran terhadap sesama Muslim. Iraq
menyerang Iran, kemudian Iraq juga menyerang Kuwait
dan Arab Saudi yang dibalas Arab Saudi dengan
mengundang tentara kafir AS ke negaranya.
Di Indonesia pun sering terjadi tawuran sesama Muslim
yang tak jarang memakan korban jiwa. Baik antar warga
seperti warga Matraman, Otista Raya, Manggarai, atau
pun anak-anak SMP, SMA, atau Universitas. Aneh jika
mereka takut berjihad ke Palestina melawan penjajah
Yahudi tapi begitu berani â€berperang†sampai mati
terhadap sesama Muslim lewat tawuran.
â€Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman
itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!
Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap
yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu
kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.
Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya
menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil;
sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku
adil.†[Al Hujuraat;9]
Meniru Orang Kafir
Karena pengaruh film Holywood atau Sinetron TV, banyak
remaja Islam yang meniru tingkah laku orang-orang
kafir dari pacaran di malam Minggu hingga berzina.
Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku
suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Abu
Dawud)
Merendahkan dan Menghina Sesama Muslim
â€Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan
orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh
jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan
jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.
Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan
memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk
sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim.†[Al
Hujuraat:11]
Buruk Sangka dan Menggunjing
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari
purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu
merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.†[Al Hujuraat:12]
Menghambur-hamburkan Uang atau Boros
Allah melarang ummat Islam hidup boros dengan
menghabiskan uang untuk hal yang tidak bermanfaat atau
berlebihan seperti membeli barang terlampau mewah dan
banyak, merokok, membakar petasan, dan sebagainya.
Orang yang boros adalah saudara setan, begitu firman
Allah SWT.
â€Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat
akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam
perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat
ingkar kepada Tuhannya.†[Al Israa’:26-27]
Bermegah-megahan
Sering orang bermegah-megahan dalam soal banyak harta,
anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya sehingga
lalai dari beribadah kepada Allah SWT.
Dari Ibnu Buraidah dikemukakan bahwa ayat 102:1-2
turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani
Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri
dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling
bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang
segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan
diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang
yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur
untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang
sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini
(S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang
yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan
ibadahnya kepada Allah.
(Ibnu Abi Hatim)
â€Bermegah-megahan telah melalaikan kamu
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu itu)†[At Takatsuur:1-3]
Mengumbar Aurat
Aurat mukmin terhadap mukmin yang lain haram (HR.
Ath-Thahawi)
Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri
maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas
mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al
Hakim)
Nabi SAW bersabda: â€Ada dua golongan dari penghuni
neraka yang aku tidak sampai melihat mereka yaitu
suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi
(yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan
wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka
melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang
miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium
harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari
jarak sekian sekian. (HR. Muslim)
Selain hal di atas dilarang pula berbagai penyakit
hati seperti Sombong, Riya, Kikir, Dengki, dan
sebagainya.
â€Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan
sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan
sampai setinggi gunung.†[Al Israa’:37]
(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke
pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di
dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi
orang-orang yang sombong." [Al Mu’miin
â€Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang
keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan
maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang)
dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang
mereka kerjakan.†[Al Anfaal:47]
â€Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu
pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu
mengulurkannya (royal) karena itu kamu menjadi tercela
dan menyesal.†[Al Israa’:29]
â€(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang
lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah
yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah
menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang
menghinakan.†[An Nisaa’:37]
†dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." [Al
Falaq:5]
Jika kita mengerjakan salah satu dari dosa di atas,
hendaknya kita berusaha menghentikannya dan bertobat
kepada Allah SWT karena sesungguhnya Allah Maha
Pengampun dan penerima Taubat.
“..Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.â€
[An-Nuur:31)
“ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.â€
[Az-Zumar:53]
“Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku
dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah
kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika
dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau
meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak
Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa
kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang
kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu
apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan
sebesar itu pula.†[HR. Tirmidzi]
Media Islam Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan
hadits
www.media-islam.or.id
Allahu Akbar
Kamis, 05 Februari 2009
Rabu, 04 Februari 2009
Membeli Kebun di Surga
oleh Dadi M. Hasan Basri
-----------------
Suatu ketika, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersedekah, di surga nanti, ia akan memiliki seperti yang ia sedekahkan.”
Abu Dahdah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku
memiliki dua kebun. Apabila salah satunya kusedekahkan, apakah kelak
aku akan memiliki kebun seperti itu di surga?’
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah kembali bertanya, “Apakah istri (Ummu Dahdah) dan anak-anakku juga akan bersamaku di surga?”
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah pun membulatkan tekadnya untuk menyedekahkan kebunnya
yang terbaik.
Sesampainya di kebun itu, ia berjumpa dengan istri dan
anak-anaknya. Ia pun menegaskan kepada mereka, “Aku akan menyedekahkan
kebun ini. Dengan begitu, aku membeli kebun seperti ini di surga.
Adapun engkau, istriku, akan bersamaku dan seluruh anak kita.”
Tiba-tiba saja meneteslah air mata bahagia dari kedua pelupuk mata istrinya yang beriman itu.
Istri Abu Dahdah lalu berkata, “Semoga yang engkau jual dan beli diberkati Allah SWT, wahai suamiku.”
Istri Abu Dahdah kemudian segera memanggil anak-anaknya dan
meninggalkan kebun itu karena sudah bukan milik mereka lagi. Akhirnya,
kebun itu menjadi milik umat Islam yang miskin.
Kisah diatas dikutip oleh al-Kalbi dalam tafsirnya saat menjelaskan surah al-Baqarah ayat 245,
“Barangsiapa
meminjami Allah dengan pinjamannya yang baik maka Allah melipatgandakan
ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki)
dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Kisah ini
mengingatkan kita bahwa apa yang tengah kita genggam sekarang ini, apa
yang kita miliki kini, pada hakikatnya tidaklah memiliki arti apa-apa
bila tidak kita infakkan, bila tidak kita sedekahkan di jalan Allah.
Harta yang diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan kenikmatan
surga bukanlah harta yang kita peroleh kemudian kita simpan, melainkan
harta yang kita peroleh dengan jalan yang halal kemudian kita infakkan
(nafkahkan) dan kita sedekahkan.
Abu Dahda, seorang sahabat Nabi, ketika mendengar bahwa sedekah yang
kita berikan akan diganti oleh Allah dengan ganti yang setimpal, bahkan
lebih, dengan segera menginfakkan salah satu dari dua kebunnya, bahkan
kebunnya yang terbaik. Ia berharap
Allah akan menggantinya dengan kebun
serupa di surga kelak.
Kisah ini dapat kita jadikan bahan renungan dan cerminan, apakah
sudah seperti itu upaya kita untuk mendapatkan hal yang sepadan di
akhirat kelak dengan apa yang kita infakkan di dunia ini. Apakah infak
dan sedekah yang kita keluarkan hanyalah serpihan-serpihan kecil atau
remah-remah dari harta kita yang tidak berarti dan tidak kita
perhitungkan?
Seorang teman pernah berseloroh, “Bila Anda merasa berat sewaktu
berinfak dengan sepuluh ribu rupiah, tetapi merasa ringan sewaktu
berinfak dengan seribu rupiah, seukuran itu pulalah kualitas Anda.
Semakin ringan Anda mengeluarkan infak dalam jumlah yang semakin besar
dalam kemampuan Anda, sebesar itu pulalah kualitas Anda.”
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,“Berikan hartamu maka Aku akan memberi kepadamu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan ragu-ragu untuk berinfak dan bersedekah. Biarkanlah
diri Anda memberi. Bila Anda melakukannya dengan ikhlas dan kerendahan
hati, banyak berkah Ilahi yang mengalir kepada Anda.
Tujuh manfaat bersedekah:
1. membebaskan dari kesulitan,
2. menyembuhkan penyakit,
3. memelihara harta benda,
4. meredakan murka Allah,
5. menarik cinta kasih manusia,
6. membuat hati yang keras menjadi lembut, dan
7. menambah keberkahan usia.
Dalam sebuah pepatah dikatakan, “Sebaik-baik harta adalah yang kamu
infakkan (sedekahkan) dan sebaik-baik ilmu adalah yang memberimu guna.”
-----------------
Suatu ketika, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersedekah, di surga nanti, ia akan memiliki seperti yang ia sedekahkan.”
Abu Dahdah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku
memiliki dua kebun. Apabila salah satunya kusedekahkan, apakah kelak
aku akan memiliki kebun seperti itu di surga?’
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah kembali bertanya, “Apakah istri (Ummu Dahdah) dan anak-anakku juga akan bersamaku di surga?”
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah pun membulatkan tekadnya untuk menyedekahkan kebunnya
yang terbaik.
Sesampainya di kebun itu, ia berjumpa dengan istri dan
anak-anaknya. Ia pun menegaskan kepada mereka, “Aku akan menyedekahkan
kebun ini. Dengan begitu, aku membeli kebun seperti ini di surga.
Adapun engkau, istriku, akan bersamaku dan seluruh anak kita.”
Tiba-tiba saja meneteslah air mata bahagia dari kedua pelupuk mata istrinya yang beriman itu.
Istri Abu Dahdah lalu berkata, “Semoga yang engkau jual dan beli diberkati Allah SWT, wahai suamiku.”
Istri Abu Dahdah kemudian segera memanggil anak-anaknya dan
meninggalkan kebun itu karena sudah bukan milik mereka lagi. Akhirnya,
kebun itu menjadi milik umat Islam yang miskin.
Kisah diatas dikutip oleh al-Kalbi dalam tafsirnya saat menjelaskan surah al-Baqarah ayat 245,
“Barangsiapa
meminjami Allah dengan pinjamannya yang baik maka Allah melipatgandakan
ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki)
dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Kisah ini
mengingatkan kita bahwa apa yang tengah kita genggam sekarang ini, apa
yang kita miliki kini, pada hakikatnya tidaklah memiliki arti apa-apa
bila tidak kita infakkan, bila tidak kita sedekahkan di jalan Allah.
Harta yang diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan kenikmatan
surga bukanlah harta yang kita peroleh kemudian kita simpan, melainkan
harta yang kita peroleh dengan jalan yang halal kemudian kita infakkan
(nafkahkan) dan kita sedekahkan.
Abu Dahda, seorang sahabat Nabi, ketika mendengar bahwa sedekah yang
kita berikan akan diganti oleh Allah dengan ganti yang setimpal, bahkan
lebih, dengan segera menginfakkan salah satu dari dua kebunnya, bahkan
kebunnya yang terbaik. Ia berharap
Allah akan menggantinya dengan kebun
serupa di surga kelak.
Kisah ini dapat kita jadikan bahan renungan dan cerminan, apakah
sudah seperti itu upaya kita untuk mendapatkan hal yang sepadan di
akhirat kelak dengan apa yang kita infakkan di dunia ini. Apakah infak
dan sedekah yang kita keluarkan hanyalah serpihan-serpihan kecil atau
remah-remah dari harta kita yang tidak berarti dan tidak kita
perhitungkan?
Seorang teman pernah berseloroh, “Bila Anda merasa berat sewaktu
berinfak dengan sepuluh ribu rupiah, tetapi merasa ringan sewaktu
berinfak dengan seribu rupiah, seukuran itu pulalah kualitas Anda.
Semakin ringan Anda mengeluarkan infak dalam jumlah yang semakin besar
dalam kemampuan Anda, sebesar itu pulalah kualitas Anda.”
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,“Berikan hartamu maka Aku akan memberi kepadamu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan ragu-ragu untuk berinfak dan bersedekah. Biarkanlah
diri Anda memberi. Bila Anda melakukannya dengan ikhlas dan kerendahan
hati, banyak berkah Ilahi yang mengalir kepada Anda.
Tujuh manfaat bersedekah:
1. membebaskan dari kesulitan,
2. menyembuhkan penyakit,
3. memelihara harta benda,
4. meredakan murka Allah,
5. menarik cinta kasih manusia,
6. membuat hati yang keras menjadi lembut, dan
7. menambah keberkahan usia.
Dalam sebuah pepatah dikatakan, “Sebaik-baik harta adalah yang kamu
infakkan (sedekahkan) dan sebaik-baik ilmu adalah yang memberimu guna.”
Maaf Suamiku… Aku Tidak Akan Menaatimu!!
Penulis: Ummu Aiman
Muroja’ah oleh: Ustadz Nur Kholis KurdianLc.
Bahagia rasanya saat akad nikah terucapsaat semarak walimatul ‘urs menggemasaat tali pernikahan terikat. Saat itu telah halal cinta dua orang insansaling mengisi dan saling melengkapi setiap harinya. Saat itu pula masing-masing pasangan akan memiliki tugas dan kewajiban baru dalam kehidupan mereka. Sang suami memiliki hak yang harus ditunaikan istrinyadan sang istripun mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh suaminya. Alangkah bahagianya jika masing-masing secara seimbang senantiasa berupaya menunaikan kewajibannya.
Duhai saudariku muslimahkini aku bertanya padamu… bukankah indah rasanya jika seorang istri mematuhi suaminyakemudian ia senantiasa menjadi penyejuk mata bagi suaminyamenjaga lisan dari menyebarkan rahasia suaminyalalu menjaga harta dan anak-anak suami ketika ia pergi? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihahbila ia menyuruhnya maka ia menaatinyabila memandangnya membuat hati senangbila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu)maka ia melakukannya dengan baikdan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Sehingga… kehidupan rumah tangga pun akan berjalan penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan. Yang satu menjadi tempat berbagi bagi yang lainsaling menasehati dalam ketakwaandan saling menetapi dalam kesabaran.
Saudariku muslimah… tulisan tentang kewajiban istri dalam mematuhi perintah suami telah banyak dibahas. Maka kini penulis akan mencoba mengetengahkan hal-hal apa saja yang tidak boleh dipatuhi oleh seorang istri di saat suaminya memerintah.
Ini Saatnya Mematuhi Perintah Suami
Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dalam hal yang mubah dan disyari’atkan. Jika dalam perkara yang disyari’atkantentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnyakarena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nyaseperti kewajiban sholatberpuasa di bulan Ramadhanmemakai jilbabdan lain-lain. Maka untuk hal iniseorang hamba tidak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubahjika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumahberusaha mengatur keuangan keluarga dengan baikselalu bangun tidur awal waktumembantu pekerjaan suamidan hal-hal lain yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.
Ada Saatnya Menolak Perintah Suami
Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah kita wajib mematuhi suamimaka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda“Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besarmaka apalagi kewajiban mematuhi Allahtentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kitakemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahuibukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kitatetapi cobalah untuk menasehatinya dan berbicara dengan lemah lembutsiapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehatikarena perkataan yang baik adalah sedekah.
Saudarikuberikut ini beberapa contoh perintah suami yang tidak boleh kita taati karena bertentangan dengan perintah Allah:
1. Menyuruh Kepada Kesyirikan
Tidak layak bagi kita untuk menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukunmenyuruh mengalungkan jimat pada anaknyangalap berkah di kuburanbermain zodiakdan lain-lain. Ketahuilah saudarikusyirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!
2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan
Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimahjika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyontohkannyamaka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam inimaka istri harus menolak dengan halus serta menasehati suaminya.
3. Memerintah untuk Melepas Jilbab
Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnyamaka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayanhal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatantidak khawatir timbulnya fitnahserta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggarkarena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.
3. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda“…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)
Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apapun. Walaupun begituIslam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhiyaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubursebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“(Boleh) dari arah depan atau arah belakangasalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat duburhendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tidak diperbolehkan dalam berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnyamaka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. TirmidziAbu DawudIbnu Majahdan Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Belajarlah Wahai Muslimah!
Demikianlah saudariku pembahasan singkat yang dapat penulis sampaikan. Sebagai penutupmari kita ringkas pembahasan ini: Bahwa wajib bagi seorang istri untuk mematuhi apa yang diperintahkan suaminya dalam perkara yang mubah apalagi yang disyari’atkan Allahnamun tidak boleh patuh jika suami memerintahkan kemaksiatan dan yang dilarang oleh Rabb Semesta Alam.
Laluperkara apa sajakah yang termasuk dalam larangan Allah? untuk itusetiap hamba wajib mencari tahu tentang syari’at Islam karena dengannya akan tercapai ketakwaan kepada Allahyaitu melakukan yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang. Wahai para wanita muslim! Pelajarilah agama Allah dengan menghadiri majelis-majelis yang mengajarkan ilmu syar’i atau dengan menelaah buku dan tulisan para ‘ulama. Tidaklah mungkin seseorang akan mengenal agamanya tanpa berusaha mencari tahu. Dan tidak mungkin pula ilmu akan sampai kepadanya jika ia hanya bermalas-malasan di rumah atau kosatau hanya sibuk berjam-jam berdandan di depan cerminserta bergosip ria sepanjang waktu. Sungguh yang seperti itu bukanlah ciri seorang muslimah yang sejati. Bersegeralah melakukan kebaikan wahai saudarikukarena Allah pasti akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikandan membalas keburukan dengan keburukan walaupun hanya sebesar biji sawi. Setiap anak Adam memiliki kesalahandan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dirinya. Wallahu ta’ala a’lam.
Referensi:
1. Al-Qur’anul Karim
2. Panduan Lengkap Nikah (dari A sampai Z)Abu Hafsh UsamahPustaka Ibnu Katsir
3. Rahasia Sukses Menjadi Istri ShalihahHaulah DarwaisyPustaka Darul Ilmi
4. Sutra UnguAbu Umar BasyirRumah Dzikir
Muroja’ah oleh: Ustadz Nur Kholis KurdianLc.
Bahagia rasanya saat akad nikah terucapsaat semarak walimatul ‘urs menggemasaat tali pernikahan terikat. Saat itu telah halal cinta dua orang insansaling mengisi dan saling melengkapi setiap harinya. Saat itu pula masing-masing pasangan akan memiliki tugas dan kewajiban baru dalam kehidupan mereka. Sang suami memiliki hak yang harus ditunaikan istrinyadan sang istripun mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh suaminya. Alangkah bahagianya jika masing-masing secara seimbang senantiasa berupaya menunaikan kewajibannya.
Duhai saudariku muslimahkini aku bertanya padamu… bukankah indah rasanya jika seorang istri mematuhi suaminyakemudian ia senantiasa menjadi penyejuk mata bagi suaminyamenjaga lisan dari menyebarkan rahasia suaminyalalu menjaga harta dan anak-anak suami ketika ia pergi? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihahbila ia menyuruhnya maka ia menaatinyabila memandangnya membuat hati senangbila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu)maka ia melakukannya dengan baikdan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Sehingga… kehidupan rumah tangga pun akan berjalan penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan. Yang satu menjadi tempat berbagi bagi yang lainsaling menasehati dalam ketakwaandan saling menetapi dalam kesabaran.
Saudariku muslimah… tulisan tentang kewajiban istri dalam mematuhi perintah suami telah banyak dibahas. Maka kini penulis akan mencoba mengetengahkan hal-hal apa saja yang tidak boleh dipatuhi oleh seorang istri di saat suaminya memerintah.
Ini Saatnya Mematuhi Perintah Suami
Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dalam hal yang mubah dan disyari’atkan. Jika dalam perkara yang disyari’atkantentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnyakarena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nyaseperti kewajiban sholatberpuasa di bulan Ramadhanmemakai jilbabdan lain-lain. Maka untuk hal iniseorang hamba tidak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubahjika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumahberusaha mengatur keuangan keluarga dengan baikselalu bangun tidur awal waktumembantu pekerjaan suamidan hal-hal lain yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.
Ada Saatnya Menolak Perintah Suami
Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah kita wajib mematuhi suamimaka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda“Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besarmaka apalagi kewajiban mematuhi Allahtentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kitakemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahuibukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kitatetapi cobalah untuk menasehatinya dan berbicara dengan lemah lembutsiapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehatikarena perkataan yang baik adalah sedekah.
Saudarikuberikut ini beberapa contoh perintah suami yang tidak boleh kita taati karena bertentangan dengan perintah Allah:
1. Menyuruh Kepada Kesyirikan
Tidak layak bagi kita untuk menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukunmenyuruh mengalungkan jimat pada anaknyangalap berkah di kuburanbermain zodiakdan lain-lain. Ketahuilah saudarikusyirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!
2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan
Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimahjika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyontohkannyamaka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam inimaka istri harus menolak dengan halus serta menasehati suaminya.
3. Memerintah untuk Melepas Jilbab
Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnyamaka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayanhal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatantidak khawatir timbulnya fitnahserta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggarkarena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.
3. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda“…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)
Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apapun. Walaupun begituIslam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhiyaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubursebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“(Boleh) dari arah depan atau arah belakangasalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat duburhendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tidak diperbolehkan dalam berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnyamaka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. TirmidziAbu DawudIbnu Majahdan Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Belajarlah Wahai Muslimah!
Demikianlah saudariku pembahasan singkat yang dapat penulis sampaikan. Sebagai penutupmari kita ringkas pembahasan ini: Bahwa wajib bagi seorang istri untuk mematuhi apa yang diperintahkan suaminya dalam perkara yang mubah apalagi yang disyari’atkan Allahnamun tidak boleh patuh jika suami memerintahkan kemaksiatan dan yang dilarang oleh Rabb Semesta Alam.
Laluperkara apa sajakah yang termasuk dalam larangan Allah? untuk itusetiap hamba wajib mencari tahu tentang syari’at Islam karena dengannya akan tercapai ketakwaan kepada Allahyaitu melakukan yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang. Wahai para wanita muslim! Pelajarilah agama Allah dengan menghadiri majelis-majelis yang mengajarkan ilmu syar’i atau dengan menelaah buku dan tulisan para ‘ulama. Tidaklah mungkin seseorang akan mengenal agamanya tanpa berusaha mencari tahu. Dan tidak mungkin pula ilmu akan sampai kepadanya jika ia hanya bermalas-malasan di rumah atau kosatau hanya sibuk berjam-jam berdandan di depan cerminserta bergosip ria sepanjang waktu. Sungguh yang seperti itu bukanlah ciri seorang muslimah yang sejati. Bersegeralah melakukan kebaikan wahai saudarikukarena Allah pasti akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikandan membalas keburukan dengan keburukan walaupun hanya sebesar biji sawi. Setiap anak Adam memiliki kesalahandan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dirinya. Wallahu ta’ala a’lam.
Referensi:
1. Al-Qur’anul Karim
2. Panduan Lengkap Nikah (dari A sampai Z)Abu Hafsh UsamahPustaka Ibnu Katsir
3. Rahasia Sukses Menjadi Istri ShalihahHaulah DarwaisyPustaka Darul Ilmi
4. Sutra UnguAbu Umar BasyirRumah Dzikir
Selasa, 03 Februari 2009
MISTERI SHALAT SUBUH
Category: Books
Genre : Religion & Spirituality
Author : Dr. Raghib as-Sirjani
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Pribadi dan Masyarakat-
(Dilengkapi 10 Tips Mudah Menjalankan Shalat Subuh)
Penerbit: AQWAM
SINOPSIS:
Seorang penguasa Yahudi pernah berkata, "Kami baru takut terhadap umat
Islam jika mereka telah melaksanakan shalat Subuh seperti melaksanakan
shalat Jum'at."
Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar, tersimpan rahasia
yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang, bila dirunut, bersumber
dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para
sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas
itu. Pernah, suatu ketika mereka terlambat shalat Subuh dalam
penaklukan benteng Tastar. "Tragedi" ini membuat sahabat semisal Anas
bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.
Yang menarik, Subuh ternyata juga menjadi waktu peralihan dari era
jahiliah menuju era tauhid. Kaum 'Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka
lainnya, dilibas petaka pada waktu Subuh -yang menandai berakhirnya
dominasi jahiliah dan munculnya cahaya tauhid.
Buku ini mencoba menganalisis bahwa keterpurukan umat Islam dewasa
ini, tak lepas dari akibat diremehkannya shalat Subuh. Bagaimana alur
logikanya? Dr. Raghib As-Sirjani mengupasnya tuntas dalam buku ini.
Keluasan wawasan sang penulis, ditambah kedalaman pengetahuannya akan
nash-nash syar'i, menyadarkan kepada kita ihwal keistimewaan shalat
Subuh yang selama ini kurang banyak dimengerti oleh umat Islam. Tak
lupa, beliau tuliskan tips-tips praktis agar mudah melaksanakan shalat
Subuh.
Tags: buku
Next: KEAJAIBAN SHALAT SUBUH
Genre : Religion & Spirituality
Author : Dr. Raghib as-Sirjani
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Pribadi dan Masyarakat-
(Dilengkapi 10 Tips Mudah Menjalankan Shalat Subuh)
Penerbit: AQWAM
SINOPSIS:
Seorang penguasa Yahudi pernah berkata, "Kami baru takut terhadap umat
Islam jika mereka telah melaksanakan shalat Subuh seperti melaksanakan
shalat Jum'at."
Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar, tersimpan rahasia
yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang, bila dirunut, bersumber
dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para
sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas
itu. Pernah, suatu ketika mereka terlambat shalat Subuh dalam
penaklukan benteng Tastar. "Tragedi" ini membuat sahabat semisal Anas
bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.
Yang menarik, Subuh ternyata juga menjadi waktu peralihan dari era
jahiliah menuju era tauhid. Kaum 'Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka
lainnya, dilibas petaka pada waktu Subuh -yang menandai berakhirnya
dominasi jahiliah dan munculnya cahaya tauhid.
Buku ini mencoba menganalisis bahwa keterpurukan umat Islam dewasa
ini, tak lepas dari akibat diremehkannya shalat Subuh. Bagaimana alur
logikanya? Dr. Raghib As-Sirjani mengupasnya tuntas dalam buku ini.
Keluasan wawasan sang penulis, ditambah kedalaman pengetahuannya akan
nash-nash syar'i, menyadarkan kepada kita ihwal keistimewaan shalat
Subuh yang selama ini kurang banyak dimengerti oleh umat Islam. Tak
lupa, beliau tuliskan tips-tips praktis agar mudah melaksanakan shalat
Subuh.
Tags: buku
Next: KEAJAIBAN SHALAT SUBUH
Shalat Malam
Kategori: Fiqh dan Muamalah
Hukum, Waktu dan Jumlah Rokaat Sholat Malam
Hukum sholat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.
Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Sholat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.
Keutamaan Sholat Malam
Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)
Karena pentingnya sholat malam ini Alloh berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)
Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.
1. Sebab masuk surga.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)
2. Menaikkan derajat di surga.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
3. Penghapus dosa dan kesalahan.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)
5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.
Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.” (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)
Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan sholat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Alloh sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rosululloh ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? Wallohu Musta’an.
***
Penulis: Abu Abdillah Rudi Agus H.
Artikel www.muslim.or.id
Hukum, Waktu dan Jumlah Rokaat Sholat Malam
Hukum sholat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.
Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Sholat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.
Keutamaan Sholat Malam
Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)
Karena pentingnya sholat malam ini Alloh berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)
Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.
1. Sebab masuk surga.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)
2. Menaikkan derajat di surga.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
3. Penghapus dosa dan kesalahan.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.
Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)
5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.
Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.” (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)
Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan sholat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Alloh sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rosululloh ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? Wallohu Musta’an.
***
Penulis: Abu Abdillah Rudi Agus H.
Artikel www.muslim.or.id
Meniti Jalan Istiqomah
Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus
Kaum muslimin rahimakumullah, di dalam kehidupan manusia, Allah telah menetapkan jalan yang harus ditempuh oleh manusia melalui syariat-Nya sehingga seseorang senantiasa Istiqomah dan tegak di atas syariat-Nya, selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa istiqomah.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS. Al Ahqaaf [46]: 13-14)
Akan tetapi bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin untuk senantiasa terus dan sempurna dalam istiqomahnya. Terkadang seorang hamba luput dan lalai yang menyebabkan nilai istiqomah seorang hamba menjadi berkurang. Oleh karena itu, Allah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kekurangan tersebut yaitu dengan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah ta’ala dari dosa dan kesalahan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat [41]: 6). Di dalam al-Qur’an maupun Sunnah telah ditegaskan cara-cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba untuk bisa meraih istiqomah. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar. Allah Ta’ala berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim [14] : 27). Makna “ucapan yang teguh” adalah dua kalimat syahadat. Sehingga, Allah akan meneguhkan orang yang beriman yang memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat ini di dunia dan di akhirat.
Kedua, membaca al-Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur‘an itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl [16]:102)
Ketiga, berkumpul dan bergaul di lingkungan orang-orang saleh. Hal ini sangat membantu seseorang untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah ta’ala. Teman-teman yang saleh akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik serta mengingatkan kita dari kekeliruan. Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa hal yang sangat membantu meneguhkan keimanan para sahabat adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman yang artinya, “Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran [3]:101)
Keempat, berdoa kepada Allah ta’ala agar Dia senantiasa memberikan kepada kita istiqomah hingga akhir hayat. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)
Kelima, membaca kisah Rasulullah, para sahabat dan para ulama terdahulu untuk mengambil teladan dari mereka. Dengan membaca kisah-kisah mereka, bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan diinul Islam, maka kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)
Kaum muslimin rahimakumullah demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai renungan bagi kita semua untuk meniti jalan istiqomah. Semoga Allah ta’ala memberikan keteguhan kepada kita untuk senantiasa menjalankan syariat-Nya hingga kelak kematian menjemput kita semua. Amiin ya Mujibbassaailiin.
[Diringkas dari penjelasan Hadits Arba’in No. 21 yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc.]
***
Penulis: Amrullah Akadhinta
Artikel www.muslim.or.id
Kaum muslimin rahimakumullah, di dalam kehidupan manusia, Allah telah menetapkan jalan yang harus ditempuh oleh manusia melalui syariat-Nya sehingga seseorang senantiasa Istiqomah dan tegak di atas syariat-Nya, selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa istiqomah.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS. Al Ahqaaf [46]: 13-14)
Akan tetapi bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin untuk senantiasa terus dan sempurna dalam istiqomahnya. Terkadang seorang hamba luput dan lalai yang menyebabkan nilai istiqomah seorang hamba menjadi berkurang. Oleh karena itu, Allah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kekurangan tersebut yaitu dengan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah ta’ala dari dosa dan kesalahan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat [41]: 6). Di dalam al-Qur’an maupun Sunnah telah ditegaskan cara-cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba untuk bisa meraih istiqomah. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar. Allah Ta’ala berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim [14] : 27). Makna “ucapan yang teguh” adalah dua kalimat syahadat. Sehingga, Allah akan meneguhkan orang yang beriman yang memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat ini di dunia dan di akhirat.
Kedua, membaca al-Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur‘an itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl [16]:102)
Ketiga, berkumpul dan bergaul di lingkungan orang-orang saleh. Hal ini sangat membantu seseorang untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah ta’ala. Teman-teman yang saleh akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik serta mengingatkan kita dari kekeliruan. Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa hal yang sangat membantu meneguhkan keimanan para sahabat adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman yang artinya, “Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran [3]:101)
Keempat, berdoa kepada Allah ta’ala agar Dia senantiasa memberikan kepada kita istiqomah hingga akhir hayat. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)
Kelima, membaca kisah Rasulullah, para sahabat dan para ulama terdahulu untuk mengambil teladan dari mereka. Dengan membaca kisah-kisah mereka, bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan diinul Islam, maka kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)
Kaum muslimin rahimakumullah demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai renungan bagi kita semua untuk meniti jalan istiqomah. Semoga Allah ta’ala memberikan keteguhan kepada kita untuk senantiasa menjalankan syariat-Nya hingga kelak kematian menjemput kita semua. Amiin ya Mujibbassaailiin.
[Diringkas dari penjelasan Hadits Arba’in No. 21 yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc.]
***
Penulis: Amrullah Akadhinta
Artikel www.muslim.or.id
Tawakal yang Sebenarnya
Kategori: Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus
Sebagian orang menganggap bahwa tawakal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, “Saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban.”
Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakal tersebut.
Tawakal yang Sebenarnya
Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”
Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Perlu diketahui bahwa tawakal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.
Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya), “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.
Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)
Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang
Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)
Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)
Tawakal yang Termasuk Syirik
Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.
Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.
Tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.
Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.
Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)
Penutup
Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama.
Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
Sebagian orang menganggap bahwa tawakal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, “Saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban.”
Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakal tersebut.
Tawakal yang Sebenarnya
Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”
Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Perlu diketahui bahwa tawakal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.
Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya), “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.
Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)
Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang
Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)
Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)
Tawakal yang Termasuk Syirik
Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.
Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.
Tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.
Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.
Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)
Penutup
Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama.
Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
Pesankan Saya Tempat Di Neraka
ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran di sela-sela waktu senggang atau ba'da shalat. Begitu juga pemilik toko, penjaganya, para karyawan, satpam, sopir taksi, bos-bos kantoran, selalu terlihat membaca al-Quran. Kalau tidak dibaca, Al-Quran mereka letakkan dengan rapih di atas mejanya, atau ditenteng dan disimpan dalam tas jika bepergian.
Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.
Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran.
Begitupun di dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot.
Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang "distel" di dalam kendaraan sangat bempengaruhi "karakteristik" pendengarnya. Normalnya, para penumpang malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh.
Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria , kota pantai yang bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan tipis dan tembus
pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri, dan "terlihat" oleh semua penumpang. Kebetulan Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini:
***
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai
penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya.
Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria . Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati
dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a'lam.
dikutip dalam Salam Senyum
Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.
Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran.
Begitupun di dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot.
Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang "distel" di dalam kendaraan sangat bempengaruhi "karakteristik" pendengarnya. Normalnya, para penumpang malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh.
Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria , kota pantai yang bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan tipis dan tembus
pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri, dan "terlihat" oleh semua penumpang. Kebetulan Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini:
***
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai
penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya.
Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria . Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati
dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a'lam.
dikutip dalam Salam Senyum
Aku Tahu Tuhan Sedang Mengujiku
oleh Fiyan Arjun
Dua
minggu sudah aku menjadi orang rumahan kembali. Hal ini terjadi
terlepas sejak awal tahun—dan itu terjadi tahun 2009 ini. Sebuah tahun
dimana aku ingin sekali semua segala impianku terlaksana. Tapi itu
hanya tinggal asa yang tersisa sampai saat ini.
Itu semua terjadi lantaran tragedi—begitu aku menyembutnya. Hal itu
membuat aku terus meratap dengan keadaanku seperti sekarang. Menjadi
orang rumahan. Alias, pengangguran terselubung. Kenapa aku katakan
seperti itu? Ya, karena aku tidak seperti kebanyakan pengangguran yang
hanya berpaku tangan saja. Kalau aku ada saja yang dikerjakan. Entah,
itu menulis lalu aku kirim ke media masa (ya hitung-hitung mencari
pemasukan siapa tahu bisa jebol dan masuk di media massa. Baik itu
mengikuti lomba atau yang biasa-biasa saja. Tapi itu kalau jebol. Kalau
tidak jebol? Ya, aku hanya bisa pasrah dan ikhtiar saja) serta
bertanya-tanya kepada kawan-kawan apakah ada lowongan kerja atu tidak.
Pun itu aku harus menahan malu dan menerima dengan lapang dada bila ada
jawaban yang tidak sesuai dengan harapanku.
Dahulu sebelum tragedi itu terjadi—yang menurutku itu ketika awal
tahun ini atasanku—dimana tempat aku bekerja dulu. Aku menerima
keputusan yang tak dapat aku terima.
Atasanku memerintahkan diriku
untuk me-risgn-kan diri di tempat kerjaku saat itu. Ya, dikarenakan
keadaan perusahaan yang belum mendapatkan pemasukan lebih. Dan aku
bekerja di tempat itu baru berjalan dua setengah bulan. Yang menurut
masih sangat baru itu. Dan lagi-lagi aku hanya pasrah saa ketika
keputusan itu ditujukan kepadaku. Ternyata aku sedang diuji olehNya.
Dan juga aku menulis ini pun harus merental lebih dulu lalu kukirim
kemana saja. Agar aku bisa berbagi dengan yang lain. Entah apakah aku
dapat keprihatinan dari yang membacanya atau tidak. Atau, sebaliknya
mendapatkan cemoohan. Aku tak peduli dengan itu. Bagiku hanya satu
hanya ingin berbagi. Itu saja! Aku lakukan agar rasa penat dan
pikiranku yang labil ini bisa tersalurkan melalui tulisan. Maklum
bagiku satu-satunya mediator yang tepat adalah menulis. Walaupun aku
menulis tidak langsung menggunakan komputer apalagi laptop.
Paling-paling aku hanya menyimpannya dulu di hape jadulku untuk bisa
di-save lebih dulu. Kalau tidak ya di kertas buram yang sebisa aku
lakukan.
Semua itu aku lakukan karena aku tak ingin ide-ide atau gagasan yang
ada dibenak hilang begitu saja. Aku ingin mengikatnya dengan menulisnya
sesuai perkataan Imam Syafe’i. Ide itu bagai hewan buruan (liar) untuk
itu agar tidak lepas maka diikat. Itu yang sering aku ingat! Maklumlah
kegiatan menulis bagiku sudah mendarahdaging di tubuhku. Walau pun aku
tak seperti mereka (para penulis) yang begitu banyak dilimpahi
fasilitas yang mencukupi. Sedangkan aku komputer pun tak punya. Apalagi
laptop! Maka dari itu ketika aku harus ingin menulisnya aku hanya bisa
mengandalkan dua benda tersebut: hape jadulku dan kertas buram. Lalu
setelah itu aku merental ke tempat pengerentalan komputer. Itu pun bila
aku memilki rezeki lebih lalu aku bisa merentalnya. Kalau kantong
sakuku sedang tongpes. Alias, bokek, paling-paling jalan satu-satunya
menunggu dan menunggu rezekiNya (dengan cara menunggu tulisanku dimuat.
Menyedihkan ya?). Kalau tidak ya terpaksa aku hanya menyimpannya dengan
cara di tulis memakai dua benda tersebut. Itulah yang selama ini aku
lakukan! Sampai kapan Tuhan mengujiku?
Lagi-lagi Tuhan mengujiku kembali. Pun aku harus menerima itu lagi.
Ya, orangtuaku (ibu)—yang single parent itu terus saja meratapi
keadaanku. Kadang secara tak sengaja airmatanya mengalir hingga menjadi
anak sungai di pipi keriputnya ketika aku lihat sedang menangisi
keadaanku sekarang. Itu benar-benar membuat aku sangat terpukul. Bahkan
mengutuk diriku bahwa aku sebagai anak tak berguna. Tak dapat
membahagiakan orangtuanya. Itu yang kurasakan saat tragedi itu aku
terima. Hempas sudah impian yang akan kubangun nanti di masa depanku.
Entah apa yang dapat aku lakukan. Semua jalan (ikhtiar) sudah kulakukan
tapi hasilnya sungguh membuat tambah menyiksa. Apalah artinya bagiku
yang hanya mengantongi ijazah Diploma Satu kemana saja aku melamar
pekerjaan yang aku temui hanya menerima diatas ijazahku itu. Apakah aku
harus memaksa agar aku bisa terloloskan dalam melamar pekerjaan itu?
Bagiku itu sama saja membuat perkara. Mencari mati!
Melihat keadaan seperti aku jadi bingung dan entah kemana lagi
langkah gontaiku kuarahkan. Melihat keadaanku sekarang ini bukan
membuatku semakin legowo menerima ujianNya ini malah membuatku
terpuruk. Terlebih bila aku melihat orangtuaku (ibu) menangisi
keadaanku. Apa yang harus kulakukan? Sebagai anak tak bisa
membahagiakan orangtuanya. Tapi ini malah membuat dirinya nelangsa
ketika melihat keadaanku sekarang ini. Kadang bila aku tak sanggup aku
seri berkata sendiri dalam sujudku. ”Tuhan, apakah aku pantas menerima
ujianMu itu…Kenapa aku yang Kau uji?
Kenapa bukan mereka yang
bergelimangan harta. Kenapa Tuhan? Kenapa Ya Rabbi?” Aku semakin tak
kuasa bila aku mengingat hal itu. Dan hanya bisa menangis dan menangis.
Lalu apa yang aku lakukan?
Akhirnya aku pun mengetahui hal itu semua. Dan benakku mulai bermain
tak karuan.
Hingga menghampiri hal—yang mungkin bagi sebagian orang
mengatakan bahwa aku ini pantas disebut sebagai orang pecundang atau
tak kuat menerima ujianNya. Lalu apa yang aku lakukan bila seandainya
daa diposisiku? Aku terus mencercaau kepadaNya. Ya, walau aku sering
melangkah ke tempat pengajian tapi apa yang aku dapatkan? Hanya nasehat
dan nasehat tanpa memberi praktek langsung. Entahlah. Mungkin jalan
terbaik untuk membuat aku tak pantas untuk hidup di dunia fana ini—yang
terkadang aku berpikir dan bergumam,” enak kali ya loncat dari fly
over,” pikirku menerawang jauh. Naudzumindzalik…
Namun aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Membalikan hati para
umatNya yang mengetahui hal itu dan aku pun membuang jauh-jauh niatan
itu. Andai itu kulakukan apa nanti kata dunia? Bisa-bisa aku menjadi
headline di surat kabar Lampu Merah. Bahwa ada mantan penulis yang tak
kuat menerima ujian Tuhan dan masuk di surat kabar. Biarlah semua aku
jalani untuk menghadapi ujian-Nya nanti jika datang kembali. Dan
ernyata Tuhan benar-benar masih mengujiku.*( fy)
sumber : eramuslim.com
Dua
minggu sudah aku menjadi orang rumahan kembali. Hal ini terjadi
terlepas sejak awal tahun—dan itu terjadi tahun 2009 ini. Sebuah tahun
dimana aku ingin sekali semua segala impianku terlaksana. Tapi itu
hanya tinggal asa yang tersisa sampai saat ini.
Itu semua terjadi lantaran tragedi—begitu aku menyembutnya. Hal itu
membuat aku terus meratap dengan keadaanku seperti sekarang. Menjadi
orang rumahan. Alias, pengangguran terselubung. Kenapa aku katakan
seperti itu? Ya, karena aku tidak seperti kebanyakan pengangguran yang
hanya berpaku tangan saja. Kalau aku ada saja yang dikerjakan. Entah,
itu menulis lalu aku kirim ke media masa (ya hitung-hitung mencari
pemasukan siapa tahu bisa jebol dan masuk di media massa. Baik itu
mengikuti lomba atau yang biasa-biasa saja. Tapi itu kalau jebol. Kalau
tidak jebol? Ya, aku hanya bisa pasrah dan ikhtiar saja) serta
bertanya-tanya kepada kawan-kawan apakah ada lowongan kerja atu tidak.
Pun itu aku harus menahan malu dan menerima dengan lapang dada bila ada
jawaban yang tidak sesuai dengan harapanku.
Dahulu sebelum tragedi itu terjadi—yang menurutku itu ketika awal
tahun ini atasanku—dimana tempat aku bekerja dulu. Aku menerima
keputusan yang tak dapat aku terima.
Atasanku memerintahkan diriku
untuk me-risgn-kan diri di tempat kerjaku saat itu. Ya, dikarenakan
keadaan perusahaan yang belum mendapatkan pemasukan lebih. Dan aku
bekerja di tempat itu baru berjalan dua setengah bulan. Yang menurut
masih sangat baru itu. Dan lagi-lagi aku hanya pasrah saa ketika
keputusan itu ditujukan kepadaku. Ternyata aku sedang diuji olehNya.
Dan juga aku menulis ini pun harus merental lebih dulu lalu kukirim
kemana saja. Agar aku bisa berbagi dengan yang lain. Entah apakah aku
dapat keprihatinan dari yang membacanya atau tidak. Atau, sebaliknya
mendapatkan cemoohan. Aku tak peduli dengan itu. Bagiku hanya satu
hanya ingin berbagi. Itu saja! Aku lakukan agar rasa penat dan
pikiranku yang labil ini bisa tersalurkan melalui tulisan. Maklum
bagiku satu-satunya mediator yang tepat adalah menulis. Walaupun aku
menulis tidak langsung menggunakan komputer apalagi laptop.
Paling-paling aku hanya menyimpannya dulu di hape jadulku untuk bisa
di-save lebih dulu. Kalau tidak ya di kertas buram yang sebisa aku
lakukan.
Semua itu aku lakukan karena aku tak ingin ide-ide atau gagasan yang
ada dibenak hilang begitu saja. Aku ingin mengikatnya dengan menulisnya
sesuai perkataan Imam Syafe’i. Ide itu bagai hewan buruan (liar) untuk
itu agar tidak lepas maka diikat. Itu yang sering aku ingat! Maklumlah
kegiatan menulis bagiku sudah mendarahdaging di tubuhku. Walau pun aku
tak seperti mereka (para penulis) yang begitu banyak dilimpahi
fasilitas yang mencukupi. Sedangkan aku komputer pun tak punya. Apalagi
laptop! Maka dari itu ketika aku harus ingin menulisnya aku hanya bisa
mengandalkan dua benda tersebut: hape jadulku dan kertas buram. Lalu
setelah itu aku merental ke tempat pengerentalan komputer. Itu pun bila
aku memilki rezeki lebih lalu aku bisa merentalnya. Kalau kantong
sakuku sedang tongpes. Alias, bokek, paling-paling jalan satu-satunya
menunggu dan menunggu rezekiNya (dengan cara menunggu tulisanku dimuat.
Menyedihkan ya?). Kalau tidak ya terpaksa aku hanya menyimpannya dengan
cara di tulis memakai dua benda tersebut. Itulah yang selama ini aku
lakukan! Sampai kapan Tuhan mengujiku?
Lagi-lagi Tuhan mengujiku kembali. Pun aku harus menerima itu lagi.
Ya, orangtuaku (ibu)—yang single parent itu terus saja meratapi
keadaanku. Kadang secara tak sengaja airmatanya mengalir hingga menjadi
anak sungai di pipi keriputnya ketika aku lihat sedang menangisi
keadaanku sekarang. Itu benar-benar membuat aku sangat terpukul. Bahkan
mengutuk diriku bahwa aku sebagai anak tak berguna. Tak dapat
membahagiakan orangtuanya. Itu yang kurasakan saat tragedi itu aku
terima. Hempas sudah impian yang akan kubangun nanti di masa depanku.
Entah apa yang dapat aku lakukan. Semua jalan (ikhtiar) sudah kulakukan
tapi hasilnya sungguh membuat tambah menyiksa. Apalah artinya bagiku
yang hanya mengantongi ijazah Diploma Satu kemana saja aku melamar
pekerjaan yang aku temui hanya menerima diatas ijazahku itu. Apakah aku
harus memaksa agar aku bisa terloloskan dalam melamar pekerjaan itu?
Bagiku itu sama saja membuat perkara. Mencari mati!
Melihat keadaan seperti aku jadi bingung dan entah kemana lagi
langkah gontaiku kuarahkan. Melihat keadaanku sekarang ini bukan
membuatku semakin legowo menerima ujianNya ini malah membuatku
terpuruk. Terlebih bila aku melihat orangtuaku (ibu) menangisi
keadaanku. Apa yang harus kulakukan? Sebagai anak tak bisa
membahagiakan orangtuanya. Tapi ini malah membuat dirinya nelangsa
ketika melihat keadaanku sekarang ini. Kadang bila aku tak sanggup aku
seri berkata sendiri dalam sujudku. ”Tuhan, apakah aku pantas menerima
ujianMu itu…Kenapa aku yang Kau uji?
Kenapa bukan mereka yang
bergelimangan harta. Kenapa Tuhan? Kenapa Ya Rabbi?” Aku semakin tak
kuasa bila aku mengingat hal itu. Dan hanya bisa menangis dan menangis.
Lalu apa yang aku lakukan?
Akhirnya aku pun mengetahui hal itu semua. Dan benakku mulai bermain
tak karuan.
Hingga menghampiri hal—yang mungkin bagi sebagian orang
mengatakan bahwa aku ini pantas disebut sebagai orang pecundang atau
tak kuat menerima ujianNya. Lalu apa yang aku lakukan bila seandainya
daa diposisiku? Aku terus mencercaau kepadaNya. Ya, walau aku sering
melangkah ke tempat pengajian tapi apa yang aku dapatkan? Hanya nasehat
dan nasehat tanpa memberi praktek langsung. Entahlah. Mungkin jalan
terbaik untuk membuat aku tak pantas untuk hidup di dunia fana ini—yang
terkadang aku berpikir dan bergumam,” enak kali ya loncat dari fly
over,” pikirku menerawang jauh. Naudzumindzalik…
Namun aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Membalikan hati para
umatNya yang mengetahui hal itu dan aku pun membuang jauh-jauh niatan
itu. Andai itu kulakukan apa nanti kata dunia? Bisa-bisa aku menjadi
headline di surat kabar Lampu Merah. Bahwa ada mantan penulis yang tak
kuat menerima ujian Tuhan dan masuk di surat kabar. Biarlah semua aku
jalani untuk menghadapi ujian-Nya nanti jika datang kembali. Dan
ernyata Tuhan benar-benar masih mengujiku.*( fy)
sumber : eramuslim.com
Ajari Aku Mencintai Mereka
oleh Ani Bowolaksono
Suatu
hari di pemondokan haji di Mekkah, terlihat seorang laki-laki berusia
60 tahunan sedang asyik berkirim-kiriman SMS. “Dari siapa tho, Mas? Asyik betul dari tadi SMS-an. Cucu ya?“ tanya teman sepemondokannya sambil tersenyum.
“Ndak, dari si bungsu.” jawabnya masih asyik dengan telepon genggamnya.
“Biasanya anak perempuan itu perhatian ya. Saya lihat Mas tiap malam
asyik ber-SMS ria.” Lanjut teman yang lain. Kali ini yang ditanya
mengangkat sejenak wajahnya dari telepon genggamnya.
“Anakku lanang kabeh kok.”
katanya sambil tersenyum. “Si bungsu ini memang perhatian sekali dengan
kami. Walau jauh, tak pernah sedikitpun mengurangi perhatiannya.” Ada
nada haru dalam ucapannya sambil membayangkan sang pengirim SMS.
Lain waktu si pengirim SMS ini sedang berada di ruangan kerjanya di
salah satu laboratorium universitas. Sedang asyik bekerja tiba-tiba
suara seorang laboran memecahkan konsentrasinya. “Telepon dari Ibu,
Pak.” katanya sambil melongok dari balik lemari. Inti percakapan
telepon itu, ibunda memintanya datang untuk membetulkan kompor! Tak
dibantah permintaan ibunda. Tak dipikirkannya juga resiko kemacetan
menuju wilayah barat Jakarta ini dari Depok. Tak dimintanya juga ibunda
mencari orang lain untuk membetulkan benda itu. “Iya Bu… insya Allah
selepas Bowo jaga ujian, langsung ke
Kebun Jeruk.” janjinya. “Jangan
lupa ya, Dek. Ibu jadi nggak bisa masak nih, kompornya tidak menyala.” katanya menegaskan. Hmmm… dia dipanggil Dek Bowo, itulah panggilan kesayangan di rumah. Panggilan Dek, menunjukkan urutan kelahiran dalam keluarganya.
***
Ada lagi hal menarik yang menujukkan kedekatan hubungan ibu dan anak
ini. Saat ia bertugas menjadi pembimbing praktik lapangan mahasiswa.
Ayah dan Ibunda mengantarkannya sampai lokasi keberangkatan. Dicium
tangan ayahnya, lalu ibunya. Cuup… Cuuup… Muaaaaahh!
Ibunda kemudian mendaratkan ciuman di pipi ananda. Tak dipedulikannya
tatapan takjub mahasiswanya dari dalam bus melihat pemandangan itu.
Lebih baik malu dilihat mahasiswa, daripada membuat sakit hati ibunda.
Ini sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Apa salahnya menyenangkan
hatinya, begitu pikirnya.
Selain pandai menyenangkan hati, si bungsu selalu meminta restu
keduanya untuk keputusan penting dalam hidup. Ada anjuran dari
instansinya, agar staf pengajar melanjutkan studi ke luar negeri.
Dicobanya beberapa aplikasi, namun sayang, tak ada yang berhasil.
Dipikirkan apa kekurangannya, rasa-rasanya semua persyaratan sudah
dipenuhi dengan baik. Saat wawancara pun tak ada masalah. Didiskusikan
hal ini dengan sang istri. “Mas, sudah bilang ibu belum tentang hal
ini?”
Ia berpikir keras. ”Sudah.” katanya pasti. “Maksudnya, tanya
betul-betul apakah Ibu berkenan jika mas belajar ke luar.” lanjut
istrinya.
Plak!! Ditepuk dahi menyadari kekhilafannya. “Iya, betul.
Belum tanya ibu berkenan atau tidak. Saya hanya memberitahu, mau
melamar beasiswa.” katanya sambil manggut-manggut. “Ibu mungkin
keberatan selama ini, karena konsekuensinya kita akan jauh darinya.”
katanya dengan suara pelan.
Jawaban ibunda terjawab keesokan hari. Dipandang anak bungsunya
dengan seksama. Sebuah episode berat terbayang menggelayut wajah
ibunda. “Dek…. Ibu ridho kok kalau Dek Bowo mau sekolah ke
luar…” katanya tercekat. Lalu diam. Terlihat buliran air mata menganak
sungai di pipinya. “Tapi… tapi… kalau misalnya kesempatan itu
didapat…,” kalimatnya terputus. “ Jangan sampai menjauhkan kita ya, Dek.” katanya tak kuasa menahan tangis. Meledaklah tangisnya. “Huuu... Huuu… Dek Bowo
itu yang paling tahu kesenangan dan kesusahan Bapak Ibu.” cetusnya
dengan berlinang air mata. Demi mendengar itu, diambilnya tangan
ibunda. Diciumnya tangan yang sudah penuh guratan ini dengan takzim.
“Saya berjanji Bu, insya Allah walaupun jauh akan selalu menghubungi
Ibu sama sering ketika Bowo berada di Depok.” janjinya sambil menahan
linangan air mata.
Dan… Ajaib! Kali ini berhasil! Ridho Allah berada dalam keridhoan
orangtua terbukti. Maka dimulailah babak baru keluarga kecil Bowo di
Negeri Matahari Terbit.
***
Ya Allah, Ku berterima kasih telah Engkau berikan seorang suami yang
begitu mencintai kedua orang tuanya. Dia telah mengajariku bagaimana
menghujani cinta dan perhatian terutama bagi ibunda, dimana di telapak
kakinya surga-Mu berada. Semoga kecintaan kami dan kecintaan kedua
orang tua kami, mendekatkan kepada cinta-Mu. Amiin.
Okayama, 27 Muharam 1430 H
Suatu
hari di pemondokan haji di Mekkah, terlihat seorang laki-laki berusia
60 tahunan sedang asyik berkirim-kiriman SMS. “Dari siapa tho, Mas? Asyik betul dari tadi SMS-an. Cucu ya?“ tanya teman sepemondokannya sambil tersenyum.
“Ndak, dari si bungsu.” jawabnya masih asyik dengan telepon genggamnya.
“Biasanya anak perempuan itu perhatian ya. Saya lihat Mas tiap malam
asyik ber-SMS ria.” Lanjut teman yang lain. Kali ini yang ditanya
mengangkat sejenak wajahnya dari telepon genggamnya.
“Anakku lanang kabeh kok.”
katanya sambil tersenyum. “Si bungsu ini memang perhatian sekali dengan
kami. Walau jauh, tak pernah sedikitpun mengurangi perhatiannya.” Ada
nada haru dalam ucapannya sambil membayangkan sang pengirim SMS.
Lain waktu si pengirim SMS ini sedang berada di ruangan kerjanya di
salah satu laboratorium universitas. Sedang asyik bekerja tiba-tiba
suara seorang laboran memecahkan konsentrasinya. “Telepon dari Ibu,
Pak.” katanya sambil melongok dari balik lemari. Inti percakapan
telepon itu, ibunda memintanya datang untuk membetulkan kompor! Tak
dibantah permintaan ibunda. Tak dipikirkannya juga resiko kemacetan
menuju wilayah barat Jakarta ini dari Depok. Tak dimintanya juga ibunda
mencari orang lain untuk membetulkan benda itu. “Iya Bu… insya Allah
selepas Bowo jaga ujian, langsung ke
Kebun Jeruk.” janjinya. “Jangan
lupa ya, Dek. Ibu jadi nggak bisa masak nih, kompornya tidak menyala.” katanya menegaskan. Hmmm… dia dipanggil Dek Bowo, itulah panggilan kesayangan di rumah. Panggilan Dek, menunjukkan urutan kelahiran dalam keluarganya.
***
Ada lagi hal menarik yang menujukkan kedekatan hubungan ibu dan anak
ini. Saat ia bertugas menjadi pembimbing praktik lapangan mahasiswa.
Ayah dan Ibunda mengantarkannya sampai lokasi keberangkatan. Dicium
tangan ayahnya, lalu ibunya. Cuup… Cuuup… Muaaaaahh!
Ibunda kemudian mendaratkan ciuman di pipi ananda. Tak dipedulikannya
tatapan takjub mahasiswanya dari dalam bus melihat pemandangan itu.
Lebih baik malu dilihat mahasiswa, daripada membuat sakit hati ibunda.
Ini sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Apa salahnya menyenangkan
hatinya, begitu pikirnya.
Selain pandai menyenangkan hati, si bungsu selalu meminta restu
keduanya untuk keputusan penting dalam hidup. Ada anjuran dari
instansinya, agar staf pengajar melanjutkan studi ke luar negeri.
Dicobanya beberapa aplikasi, namun sayang, tak ada yang berhasil.
Dipikirkan apa kekurangannya, rasa-rasanya semua persyaratan sudah
dipenuhi dengan baik. Saat wawancara pun tak ada masalah. Didiskusikan
hal ini dengan sang istri. “Mas, sudah bilang ibu belum tentang hal
ini?”
Ia berpikir keras. ”Sudah.” katanya pasti. “Maksudnya, tanya
betul-betul apakah Ibu berkenan jika mas belajar ke luar.” lanjut
istrinya.
Plak!! Ditepuk dahi menyadari kekhilafannya. “Iya, betul.
Belum tanya ibu berkenan atau tidak. Saya hanya memberitahu, mau
melamar beasiswa.” katanya sambil manggut-manggut. “Ibu mungkin
keberatan selama ini, karena konsekuensinya kita akan jauh darinya.”
katanya dengan suara pelan.
Jawaban ibunda terjawab keesokan hari. Dipandang anak bungsunya
dengan seksama. Sebuah episode berat terbayang menggelayut wajah
ibunda. “Dek…. Ibu ridho kok kalau Dek Bowo mau sekolah ke
luar…” katanya tercekat. Lalu diam. Terlihat buliran air mata menganak
sungai di pipinya. “Tapi… tapi… kalau misalnya kesempatan itu
didapat…,” kalimatnya terputus. “ Jangan sampai menjauhkan kita ya, Dek.” katanya tak kuasa menahan tangis. Meledaklah tangisnya. “Huuu... Huuu… Dek Bowo
itu yang paling tahu kesenangan dan kesusahan Bapak Ibu.” cetusnya
dengan berlinang air mata. Demi mendengar itu, diambilnya tangan
ibunda. Diciumnya tangan yang sudah penuh guratan ini dengan takzim.
“Saya berjanji Bu, insya Allah walaupun jauh akan selalu menghubungi
Ibu sama sering ketika Bowo berada di Depok.” janjinya sambil menahan
linangan air mata.
Dan… Ajaib! Kali ini berhasil! Ridho Allah berada dalam keridhoan
orangtua terbukti. Maka dimulailah babak baru keluarga kecil Bowo di
Negeri Matahari Terbit.
***
Ya Allah, Ku berterima kasih telah Engkau berikan seorang suami yang
begitu mencintai kedua orang tuanya. Dia telah mengajariku bagaimana
menghujani cinta dan perhatian terutama bagi ibunda, dimana di telapak
kakinya surga-Mu berada. Semoga kecintaan kami dan kecintaan kedua
orang tua kami, mendekatkan kepada cinta-Mu. Amiin.
Okayama, 27 Muharam 1430 H
Langganan:
Postingan (Atom)
