Allahu Akbar

Selasa, 16 September 2008

Mama "De Facto"

Setiap kali membaca berita para tenaga kerja wanita (TKW) kita di luar negeri,
kisahnya selalu saja menyedihkan. Tak ada yang membanggakan. Tengok Ceriyati
(34) tenaga kerja kita yang melarikan diri dengan cara bergelantungan dari
lantai 15 hingga lantai 12 di apartemen majikannya di Malaysia. Ceriyati dan
sejawatnya yang lain di mancanegara selalu saja menjadi bulan-bulanan. Disiksa,
disia-sia, dan ditelantarkan. Saya beruntung kerap menerima curahan hati mereka
yang bekerja di Hongkong, Makao, juga Malaysia. Saya bisa merasakan kegetiran
hidup mereka di rantau.

Sesungguhnya, mereka tak layak mendapat perlakuan seperti itu. Peran mereka di
rumah tangga majikannya sangatlah bermakna. Nyatanya mereka menjadi ibu yang
de facto (ada di hati dan pikiran) anak-anak majikannya. Sementara sang majikan
justru hanya menjadi orangtua de jure (orang tua biologis semata).

Seperti halnya kisah Asih yang bekerja menjadi pembantu di Malaysia. Asih
berasal dari Jawa Tengah. Majikannya (suami-istri) bekerja. Sepasang suami-istri
yang super sibuk itu memiliki satu orang anak yang sangat cantik, Nurbaiti
namanya. Asih-lah yang mengajarkan Nurbaiti membaca Al-Qur'an, mengajarkan
shalat, menemani belajar, memberikan apresiasi bila gadis mungil itu meraih
prestasi. Sementara kedua orangtuanya sibuk mengejar harta. Secara batin,
Nurbaiti lebih dekat dengan Asih ketimbang dengan kedua orang tuanya.

Suatu ketika kedua orangtua Nurbaiti mampu membeli mobil kelas menengah.
Nurbaitipun ikut senang. Gadis kecil itu menuangkannya dalam bentuk gambar di
atas secarik kertas. Mobil itu diberi warna-warna indah. Ia ingin memberikan
gambar mobil itu kepada mamanya. Ia ingin mamamnya bahagia. Ia ingin mamanya
tahu bahwa ia mampu menggambar mobil baru milik mereka.

Suatu sore Nurbaiti menanti mamanya pulang kerja. Dia sudah bersiap di depan
pintu ruang tamu dengan mendekap gambar mobil itu. Ia ingin membuat kejutan buat
mamanya. Begitu mamanya membuka pintu, Nurbaiti langsung menyongsong, "Mama, aku
ingin menunjukkan sesuatu pada mama".

Tanpa peduli dengan kesabaran Nurbaiti, sang mama berlalu sambil menjawab,
"Jangan sekarang ya, Mama lagi capek." Hati Nurbaiti terluka, ia sedih. Gadis
kecil itu berlari menuju kamar Asih. Ia menangis dalam pelukan sang pembantu
sampai ia tertidur.

Keesokan harinya, Nurbaiti bangun lebih pagi. Dengan hati yang masih terluka ia
pergi ke taman, mencabut bunga-bunga berduri. Dengan dua genggam bunga berduri
di tangan, ia goreskan bunga itu ke mobil baru orangtuanya. Nurbaiti tak peduli
tangannya berdarah, dia terus menggoreskan bunga itu hingga sebagian besar badan
mobil tergores.

Saat orangtua hendak berangkat kerja, terkejutlah mereka. Ibunda Nurbaiti tak
bisa menahan emosi. Ia cari Nurbaiti dan ia pukul tangan Nurbaiti berulang kali.
Darah segar mengalir kembali di tangan Nurbaiti. Dengan hati kesal, mereka
berangkat kerja meninggalkan Nurbaiti yang menangis dalam pelukan Asih.

Hari berganti hari, ternyata luka di tangah Nurbaiti tak kunjung sembuh bahkan
semakin parah. Nurbaitiu pun akhirnya dirawat di rumah sakit. Karena luka di
tangan itu semakin membusuk dan meluas, dokter memutuskan, tangan kanan Nurbaiti
harus diamputasi. Kedua orangtuanya sedih, menyesal dan tak bisa berbuat apapun.
Mereka pasrah.

Setelah 22 hari dirawat di rumah sakit, perban di tangan Nurbaiti dibuka.
Terkejtulah anak semata wayang itu ketika tahu bahwa tangan kanannya telah
tiada. Dia menangis tiada henti. Dia selalu bertanya, kenapa tangannya hilang?
Karena tangisnya tak kunjung reda, Asih menelpon kedua orangtuanya agar segera
datang ke rumah sakit. Melihat mamanya datang, Nurbaiti justru ketakutan.
Nurbaiti berlindung di pelukan Asih. Nurbaiti terus menangis sambil berteriak,
"Mama, kembalikan tanganku, aku janji tidak akan memperlihatkan gambar mobilku
kepada Mama. Biar Ka Asih saja yang melihat. Tapi Mama, kembalikan tangaku...
kembalikan tanganku mama...".

Sang Mama tak bisa berkata selain menyesali keadaan. Dengan terbata sang Mama
berkata, "Maafkan mama sayang, maafkan mama." Sang Mama menangis sejadi-jadinya.
Ia iri dengan Asih, seorang pembantu, namun telah menjadi Mama De Facto bagi
Nurbaiti...

Dikutip dari Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia, Jamil Azzaini.

Catatan :
1. Keluarga adalah anugerah Allah yang tiada terhingga, yang tidak mungkin
pernah dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Oleh karena itu, cintailah
keluarga kita dengan setulus-tulusnya cinta kita, dengan segala plus minusnya
keluarga kita. Karena keluarga adalah tempat kita mencurahkan segala gundah
gulana, mencurahkan segala kasih sayang, dan tempat untuk mendapatkan kehangatan
lahir dan batin. Dan ternyata, banyak orang-orang sukses yang lahir dari
keluarga yang penuh dengan "kehangatan"...

2. Kendatipun pentingnya "harta" dalam kehidupan ini, namun jika terlalu
"berlebihan" dalam menggapainya, akan berdampak negatif terhadap sisi yang lain,
diantaranya adalah "penilaian" terhadap sesuatu dari sisi materi ansikh...
Padahal, substansi kebahagiaan adalah bukan dari materi. Namun kebahagiaan
bermula dari hati... Hati yang lapang, akan menjadikan seseorang berbahagia,
kendatipun beratnya beban kehidupan yang menimpanya. Asih adalah diantara orang
yang memiliki hati yang lapang, kendatipun pekerjaannya hanya sebagai pembantu
rumah tangga di Malaysia.

3. Pembantu adalah "aset" berharga di tengah-tengah keluarga kita. Hargailah
pekerjaannya, manusiakanlah kehidupannya..... Dan terkadang, kita harus belajar
banyak dari keikhlasan mereka dalam bekerja, walaupun dengan segala keterbatasan
pengetahuan dan materi yang mereka miliki. Namun ternyata mereka bekerja dengan
hati, melalukan segala pekerjaan rumah dengan tulus hati, mengasuh anak majikan
dengan setulus hati.... Jangan sampai, kita sebagai orang tua, kalah tulusnya
dibandingkan dengan pembantu kita di rumah kita sendiri. Karena setiap orang
memiliki "antena" yang dapat menangkap "sinyal ketulusan" dari seseorang... Dan
anak sangat memiliki sensitiftas tinggi dalam menerima sinyal ketulusan
seseorang. Maka tuluslah...

Wallahu A'lam bi Shawab.

Tidak ada komentar: