Suara-suara tilawah terdengar sayup, keramaian tarawih di rumah Allah makin menyepi. Padahal itulah tanda kesempatan “pemburu” surga menggapai anugerah
Oleh; Hermanto Harunn *
SEPULUH akhir Ramadan menghamparkan sajadah permadani bagi hamba-bamba yang mamasrahkan raganya dalam puasa. Semester pembebasan diri dari neraka (‘itq min al-nar) seperti yang disabdakan baginda Rasul telah menyambut dengan hangat dan penuuh pesona. Suasana shalat tarawih, tadarusan Al-Quran dan qiyam lail (shalat malam) terasa semakin menyatu dengan ragam aktivitas keseharian, bahkan melebur menjadi sebuah kesatuan yang tak terpisahkan dari gerak raga. Pelbagai aktivitas Ramadan yang terangkum dalam ritual ibadah sepertinya berbaur dalam budaya, dan menjadi ikon tradisi yang tak boleh terlewatkan oleh pendulang pahala dalam ibadah jiwa.
Dua puluh hari pertama Ramadan menapak perjalanannya. Bulan yang penuh ampunan dan keberkahan ini terus mengeja langkahnya menuju puncak sisa-sisa masa. Garis finis hitungan Ramadan telah menjemput hitungan hari-hari akhirnya. Suara-suara tilawah terdengar sayup, keramaian tarawih di rumah Allah semakin menyepi, kecerian sahur semakin redup ditelan detik-detik waktu kepergian Ramadan. Namun bulan yang penuh keistimewaan ini tetap menyisakan kesempatan kepada pemburu surga untuk menggapai pengharagaan puncak di malam anugerah. Bahkan semakin redupnya cahaya purnama, sayembara Ramadan semakin membuka kesempatan bagi pelaku puasa untuk berlomba menggapai pahala “citra”nya.
Sepuluh terakhir Ramadan adalah puncak dari pesta ritual jiwa. Raga dianjurkan berkontemplasi dan jiwa bermeditasi dan i’tikaf atau merajut malam dengan benang-benang zikir, tasbih dan istighfar. Meditasi diri (i’tikaf) dengan menenggelamkan resah asa dalam lautan ibadah untuk menjemput ketenangan jiwa. Ketentraman, ketenangan dan keterarahan jiwa akan menguburkan keakuan yang kadang tanpa sadar bersemayam dalam hati-hati yang pongah. Hati, sebagaimana raga lainnya pada tubuh manusia, jelas tersimbah polusi. Nabi Muhammad saw bersabda: hati itu berkarat seperti berkaratnya besi. Karatan hati adalah polusi yang tidak nyata. Ia terasa tapi tak terlihat. Wujudnya menyesakkan tapi bentuknya abstrak. Hati yang bersimbah polusi tercermin dari gerak raga, raut muka dan ungkapan kata. Polusi itu tampa tubuh tapi memiliki nama seperti hasad, dengki, irihati, buruk sangka dan puncaknya kemunafikan.
Bahkan polusi hati merupakan limbah yang sangat berbahaya. Seperti api dalam sekam, asapnya terus menjulang, mengaburkan pemandangan namun apinya bersembunyi dibalik jerami. Inilah yang pernah diwanti oleh baginda Nabi; sunguh dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, jika daging itu baik maka baiklah seluruh tubunya dan jika daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya.
Malam puluh akhir Ramadan merupakan terapi dari penyakit yang bersarang dalam jiwa. Terapi itu sangat menjanjikan, bahkan kemujarabannya pasti sangat terasa. Terapi jiwa itu terdapat dalam sebuah anugerah yang bernama lailat al-qadr. Malam yang diarsipkan oleh Al-Quran sebagai malam terbaik dari seribu bulan. Seperti firman Allah swt yang artinya: sesungguhnya Kami talah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemulyaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemulyaan itu?pad amalam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejehteraan sempai terbit fajar. (QS: al-Qadr,1-5).
Kebaikan dan keagungan yang terhimpun dalam lailat al-Qadr tentu tidak bisa dihitung dengan jumlah angka. Seribu bulan merupakan waktu minimal jika harus menghitung-menghitungnya. Tapi Al-Quran mengisyaratkan bahwa malam anugerah itu lebih baik (khaira) dari jumlah 83 tahun. Ungkapan “lebih baik” memiliki makna kebaikan yang tanpa batas, berlipat ganda dan tak mungkin untuk diumpamakan, karena kalimat “lebih baik” mengandung arti ketidak-berbandingan, kemustahilan untuk disandingkan harganya dengan apapun. Ungkapan seribu bulan (83 tahun 4 bulan) hanya sebuah tamsil minimum bagi logika manusia yang selalu terkungkung dalam kerja dengan pahala, yang senantiasa mengharap imbal dari jerih usaha. Intinya, “alfi syahr” hanya sebatas ungkapan untuk menjelaskan kebaikan Tuhan dalam keterbatasan seorang hamba memahami kedalaman bahasa-Nya.
Jika harus disederhanakan, Lailat al-Qadr bermakna malam kemulyaan. Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zilal Al-Quran mengartikan lailat al-qadr sebagai al-taqdir wa al-tadbir (penghargaan dan pengaturan), juga al-qimah wa al-maqam (kualitas nilai dan tempat). Menurut dia, kedua makna ini selaras dengan kejadian keagungan alam yang telah dianugerahkan Al-Quran, al-Wahyu dan al-Risalah.
Menurut Sayyid Ahmad al-Musayyar dalam bukunya al-Rasul fi Ramadan, Lailat al-Qadr terjadi dalam dua malam. Pertama, malam ketika Rasulullah saw sedang dalam gua Hira dan bertemu dengan malaikat Jibril yang membawa wahyu pertama, Iqra’. Malam itu hanya terjadi bagi baginda Rasul dan peristiwa bersejarah itu tidak akan terulang lagi kepada umatnya sampai kapanpun. Menurut ahli sejarah, kejadian itu terjadi pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadan pada tahun ke 41 dari kelahiran Nabi saw, bertepatan dengan 6 Agustus tahun 610 Masehi.
Kedua, malam ibadah yang telah diperuntukkan oleh Allah kepada kaum muslimin yang ganjarannya melebihi kebaikan ibadah seribu bulan. Malam ini para malaikat turun menyapa semua hamba yang bersujud kahadapan Tuhan. Para malaikat menabur salam ketenangan, kesejukan dan ketenteraman sampai tergelincirnya malam.
Malam yang penuh anugerah bagi segenap hamba itu penuh rahasia. Hal ini agar semua hamba bergegas dan selalu mengintip kehadirannya. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu kejadian malam anugerah itu. Sebagian berpendapat bahwa malam itu terjadi pada malam sepuluh terakhir dalam bulan Ramadan. Pendapat ini berargumentasi pada hadits Nabi: taharraw lailat al-qadr fi al witri min al-‘asyri al-awakhiri min Ramadan. “Carilah lailatul qadr pada malam ganjil dari puluh akhir Ramadan.” (HR Bukhari). Ada juga ulama yang berpandangan bahwa malam lailat al-qadr mungkin terjadi dalam setiap malam dalam setahun. Juga ada pendapat yang mengkhususkan lailat al-dadr hanya terjadi di antara malam-malam bulan Ramadan. Perbedaan pendapat tentang tepatnya kejadian malam kemulyaan itu, bahkan menurut Ibn Hajar mencapai 41 pendapat.
Ragam pendapat dan pandangan tentang malam al-qadr itu menjadi keniscayaan mengingat perbedaan interpretasi dari banyaknya argumentasi tentang lailat al-qadr. Namun agaknya yang prioritas dan layak untuk disepakati adalah lailat al-qadr merupakan kejadian yang maha luar biasa bagi alam semesta. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini merupakan klimaks dari pengejewantahan sikap pasrah seoarang hamba dalam mengais ridha penciptanya.
Inilah isyarat dari do’a Nabi yang diajarkan kepada istrinya tercinta ‘Aisyah ra, ketika merindukan malam al-qadr “allahumma innaka ‘affuw karim tihibbu al-‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan suka mema’afkan, maka maafkanlah aku.”) (HR Ahmad, Ibn Majah, Turmuzi dari Aisyah).
Lailat al-Qadr merupakan malam anugerah tertingi kepada hamba. Malam yang tak tergantikan oleh malam-malam lain selama setahun. Malam anugerah itu diperuntukkan hanya bagi hamba yang berkeinginan menggapainya. Hamba yang tersungkur di bentangan sajadah, berserah dan pasrah. Sujud meletakkan dahinya yang tinggi diposisi yang sejajar dengan ujung kaki. Hamba yang menyahut panggilan salam para malaikat dengan bacaan-bacaan kalam ilahi. Hamba yang mengakui status kehambaannya di hadapan Allah. Hamba yang menghias malamnya dengan penuh keheningan, menguak syahdu gelap malam dengan mekar jemari yang bertakbir, mulut yang bertasbih dan berzikir. Hamba yang mengkomunikasikan lapar dan dahaganya dengan ridha Sang Pemberi rezeki. Hamba yang pandangan mata dan hatinya tertunduk menatap ujung sajadah sebagai tabir jendela surga.
Itulah gapaian lalilat al-qadr yang sudah pasti anugerah bagi pemburunya di tengah syahdunya malam. Sungguh mulya bagi seorang hamba yang telah menggapainya. Semoga kita mendapat piala lailat al qadr atau minimal mendapat undangan untuk menyaksikan malam anugerah itu. Amiin!
Penulis adalah dosen IAIN STS Jambi. Kini sedang menyelesaikan Program Doktoral di University Kebangsaan Malaysia
Allahu Akbar
Selasa, 23 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar