Pada suatu hari, seorang Profesor di sebuah perguruan tinggi ternama melakukan
uji coba terhadap seekor kambing yang sedang sakit dan respon mahasiswawnya
terhadap kambing tersebut, khususnya untuk melihat kemapuan mereka mengobati
sang kambing. Maklum, mereka adalah mahasiswa kedokteran hewan, yang memang
dilatih untuk bisa berinteraksi yang baik terhadap hewan.
Percobaan dilakukan dengan cara seekor kambing yang sedang sakit ditempatkan di
dalam kandangnya. Kandang dibuat sedemikian rupa hingga benar-benar menjadi
"rumah yang nyaman" bagi si kambing. Tentunya kandang yang nyaman bagi kambing
adalah kandang yang memiliki "aroma" kambing banget,... Lengkap dengan asesoris
"kotoran kambing" di sana - sini, serta tidak ketinggalan pula beberapa ikat
rerumputan dan juga "kulit pisang" yang bertebaran menghiasi lantai tanah
kandang kambing tersebut. (Maklum, ini kandang kambing ada di Indonesia).
Pada percobaan pertama, seorang mahasiswa Indonesia diminta oleh Sang Profesor
untuk masuk ke dalam kandang kambing itu. Dalam hatinya Profesor berharap
mahasiwa Indonesia akan menjadi tauladan bagi mahasiswa lainnya. Alasannya
sederhana, Universitas ini ada di Indonesia dan sang Profeseor pun adalah orang
Indonesia. Namun apa hasilnya? Ternyata tidak sampai 30 detik, sang mahasiswa
indonesia keluar dari kandang kambing sambil memegang "hidung"nya seraya menahan
muntah. Dan tak lama kemudian ia pun memang benar-benar muntah, tidak tahan
dengan aroma "khas" si kambing. Sang Profeseor pun geleng-geleng kepala, kecewa
dengan percobaan mahasiswa kesayangannya itu.
Percobaan kedua dilanjutkan, dengan meminta seorang mahasiswa Australia untuk
masuk ke dalam kandang kambing yang sama. Dan ternyata dengan harap-harap cemas,
sang Profeseor mendapatkan mahasiswanya ini ternyata mampu bertahan sedikit
lebih lama dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia, 1 Menit 24 Detik. Namun
iapun sama, "menutupi hidungnya dengan kedua jarinya, seraya menahan mual karena
terasa seperti ingin muntah. Hanya mahasiswa Australia ini lebih beruntung tidak
sampai muntah beneran, namun matanya agak memerah menahan rasa mual yang
dideranya, lantara "bau" kambing yang begitu menyengat.
Pada percobaan ketiga, mahasiswa Amerika diminta masuk ke dalam kandang kambing
yang sama. Al-Hasil, luar biasa, ia mampu bertahan 3 menit 17 detik. Ia pun
telah berhasil "memeriksa" sedikit penyakit yang ada di kambing itu. Namun ia
masih belum mampu banget menganalisa penyakit apa sesungguhnya yang ada
dikambing tersebut. Dan perlu dicatat, walaupun ia merasa "terganggu" dengan
aroma khas kambing, namun ia tidak sampai menutup kedua lubang hidung dengan
tangannya. Profeseor pun memberikan tepuk tangan baginya. Sang Mahasiswa hanya
tersenyum kecut.
Nah, pada percobaan keempat, giliran seorang mahasiswa timur tengah yang
diminta untuk masuk ke dalam kandang kambing yang sama. Dan dengan sedikit ragu,
sang mahasiswa yang sangat doyan menyantap sate kambing ini pun mencoba masuk,
untuk memeriksa kondisi kambing yang sedang sakit....
Sang Profesor dan ketiga mahasiswa lainnya memperhatikan dengan seksama, apa
kira-kira yang akan terjadi.., satu menit berlalu, dua menit berlalu, tanpa ada
tanda-tanda apapun juga, tiga menit hingga sampai ke menit yang ke empat, juga
tidak ada tanda-tanda apapun. Dalam hati, profesor bergumam, mungkin
mahasiswanya sudah mampu mendiagnosis penyakit si kambing....
Namun ternyata setelah 5 menit berlalu apa yang terjadi? Terdengar ada sedikit
suara kegaduhan di dalam kandang kambing, dan tak lama kemudian, ternyata "si
kambing" keluar dari kandangnya dalam kondisi muntah-muntah....
Kisah ini hanya anekdot belaka, sekedar untuk merileksasi kerja otak. Tapi coba
teman-teman pikir, kenapa kambing bau?
Terkait dengan masalah bau kambing, berikut ada kutipan dari situsnya Mas Jamil
Azzaini :
Sabtu-Ahad kemaren saya diundang untuk memberikan materi pencerahan di acara
Silaturahmi keluarga besar PT Holcim Indonesia Tbk di Cilacap. Merasa sering
meninggalkan anak-istri maka istri dan kedua anak saya yang paling kecil saya
bawa serta. Namanya Hana (8) dan Izul (5). Selain istri dan dua anak say, saya
juga didampingi tiga orang tim pendukung, Dayat, Rudi dan Edi.
Untuk menghidupkan suasana dalam perjalanan kami main tebak-tebakkan. Tebakan
yang tak akan terlupakan ketika istri saya bertanya “mengapa kambing bau?” semua
orang berlomba menjawab dan tidak ada yang benar. Setelah kami semua menyerah,
maka dijawab oleh istri saya “sebab kambing keteknya ada empat, kita yang dua
saja bau apalagi yang empat”. He…he…he…makanya pakai Rexona…
Allahu Akbar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar