Allahu Akbar

Selasa, 18 November 2008

Saya Ingin Seperti Ayah

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di
sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu
sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.

Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita,
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima
kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta
tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah
anaknya yang bekerja di sana.

Di situlah awal pembicaraan ‘menyimpang’ dimulai. Ia mengeluh, “Susah anak saya
ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya
telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih
banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau Anda jarang bertemu dengan
anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang
tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya
jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,
“Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan
hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para
profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Suami saya bertanya, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti
mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu
berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair
tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan
untuk konteks Indonesia.

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali
ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah
Namun aku tahu betul ia pernah berkata, “Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, “Terima kasih atas
hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara
melempar bola” “Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan
sekarang” Ia hanya berkata, “Oh ….” Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak
hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku”.
“Ya, betul aku akan sepertinya”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku
memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah
meminjam mobil, mana kuncinya?” ”Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji
dengan kawan”

“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun dan anakku sudah lama pergi dari rumah; Suatu saat aku
meneleponnya. “Aku ingin bertemu denganmu, Nak” Ia bilang, “Tentu saja aku
senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku
begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa
berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”

Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis
seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku. Rupanya prinsip
investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil
mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang
diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa
aslinya,

“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”, kapan saja ketika
suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. Ternyata cukup manjur.
“Lutfi … ayo kita kasih makan kelinci,” katanya kepada anak kami yang berusia 3
tahun.

Prinsip diatas dapat kita terapkan dalam kehidupankita sehari hari maupun dalam
tugas kerja kita mengembangkan manusia yang menjadi tanggung jawab kita ataupun
bawahan kita. Apabila kita mempunyai bawahan dengan kwalitas kerja yang kurang
atau dibawah standard maka…… sadarlah bahwa kejadian ini mungkin merupakan
refleksi atau bentukan dari diri kita sendiri jadi jangan salahkan mereka….
jangan mem “vonis” mereka tapi coba cari titik awal timbulnya masalah, dan coba
introspeksi.

Dikutip dari Jamil Azzaini.

Tidak ada komentar: