(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga
kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT)
yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun
jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2
juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya
berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.
Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik
sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak
menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah
yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah
Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah
remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta.
Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak
laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami.
Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama
emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah
tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia
berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang
sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.
Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun
bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia
biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus
cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga
dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu
Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya
dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren
kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi
seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia
mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih
bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut
jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor.
Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp
5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT
Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya
melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti
Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri.
Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
"Pak, saya mau mengambil tabungan," kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
"O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
tutup. Bagaimana bila Senin?"
"Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa."
"Mau ambil berapa?" tanya saya.
"Enam ratus ribu, Pak."
"Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?"
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
"Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi
dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing."
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang
tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh
keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
"Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan
wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada.
Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli
kambing kurban?"
"Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi
pemberi daging kurban."
"Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita."
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu
minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah
mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban
yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam
itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan
hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah
haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.
Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang
belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah
jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak
kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah
kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter
makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin
menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga.
Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
Lebih Baik memberi Dari pada menerima
"SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429 H"
Allahu Akbar
Senin, 01 Desember 2008
Jumat, 28 November 2008
Buktikan Syukurmu dengan Berqurban
Penulis : Muhammad Rizqon
KotaSantri.com : Rasulullah SAW adalah pemimpin ummat yang konsisten dalam menegakkan qiyamul lail. Beliau rela bersusah-payah menahan kantuk dan berdiri lama, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau, demi menahan kantuknya itu, mengikatkan badan beliau pada suatu penahan agar beliau tetap tegak berdiri (tidak jatuh), padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surgaNya. Tak ayal, bengkak-bengkak pada kaki Rasulullah SAW pun timbul akibat lamanya beliau berdiri ketika bermunajat di sepertiga malam terakhir itu. Subhanallah. Ketika isteri beliau bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Dengan retoris, Rasulullah SAW menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hambaNya yang bersyukur?"
Kisah tersebut adalah kisah indah yang membekaskan banyak hikmah. Pertanyaan yang dilontarkan oleh isteri beliau seakan mewakili sebuah pertanyaan yang lazim pada diri kita sekarang ini. Kita heran ketika seorang hamba diberikan dispensasi untuk bersenang-senang atau bersantai-santai, dia justru tidak mau memanfaatkannya. Kita heran ketika menyaksikan orang yang sudah kaya, tetapi dia tetap terus bekerja. Kita heran menyaksikan orang yang sudah pintar, tetapi dia tetap terus belajar. Dan lain sebagainya. Pertanyaan ini boleh jadi timbul karena yang bertanya adalah hawa nafsu kita, bukan hati nurani kita. Hawa nafsu cenderung pada kesenangan yang menipu, namun hati selalu cenderung pada kesenangan yang hakiki.
Terus belajar, terus bekerja, terus berintrospeksi, dan memperbaiki diri adalah wujud kesenangan hati yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Dia rela melakukan semua itu sebagai wujud cinta, bakti, dan syukur kepada Allah SWT. Posisi yang menguntungkan bukan makin melemahkan semangat, justru makin melejitkan semangat untuk terus berbuat sesuatu yang berarti demi meraih ridhaNya.
Dalam kaitannya dengan ibadah qurban, saya mengambil pelajaran bahwa Rasulullah SAW bercapai-capai, bersusah-payah mengurbankan fisiknya menegakkan qiyammul lail hanya karena ingin membuktikan bahwa beliau adalah hamba Allah yang bersyukur.
Menjadi hamba Allah yang bersyukur (abdan syakuran) agaknya bukan menjadi hal yang mudah, terlebih bagi kita yang masih banyak berkubang dengan dosa. Membuktikan syukur tidak sekedar dengan cara lisan mengucap "Alhamdulillah", tetapi yang lebih essensial adalah dengan ketatatan dan pengorbanan (baik harta atau jiwa) demi menegakkan suatu ibadah kepadaNya.
Cobalah kita renungkan, setiap ibadah pasti membutuhkan pengorbanan, baik materi maupun fisik. Shalat berjama'ah di masjid misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan pakaian yang menutupi aurat dan bebas dari najis. Dan secara fisik, ia mensyaratkan keringanan langkah menuju masjid. Mengenakan jilbab syar'i bagi muslimah misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan bahan pakaian yang tidak transparan, longgar agar tidak membentuk lekukan tubuh, nyaman dipakai, sedikit mahal, dan lain-lain. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kesabaran ekstra dari sang muslimah untuk istiqamah mengenakannya. Bukankah mengenakan busana muslimah terkesan lebih "ribet" bagi orang tertentu dibanding dengan hanya menggenakan celana pendek dan kaos oblong saja? Hal ini cukup menunjukkan bahwa mengenakan jilbab pun memerlukan pengorbanan fisik di sana.
Contoh yang lebih gamblang adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Secara materi, ia mensyaratkan sejumlah dana harus dikeluarkan. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kondisi kesehatan yang cukup prima untuk melaksanakannya. Dalam ibadah qurban pun, selain secara materi disyaratkan adanya sejumlah dana senilai hewan ternak tertentu, secara fisik dianjurkan adanya upaya tertentu, misalnya mengusahakan (memilih) kambing terbaik dan menyembelih sendiri hewan qurban itu.
***
Suatu ketika, Aripin, seorang anak muda yang bekerja di perkantoran elit, ditawarkan oleh ayahnya apakah ingin berqurban atau tidak, untuk masyarakat di sebuah desa kecil di Sipirok (kampung ayahnya). Sebagai anak muda yang baru beberapa tahun menikmati uang hasil dari bekerja, tentu keinginan yang ada di benaknya cukup beragam, yang jelas bukan untuk urusan ibadah seperti berqurban itu.
Namun kali ini, ia merasa bimbang. Sudah beberapa kali ia ditawari untuk berqurban oleh ayahnya, namun selalu saja ia mengelak dengan alasan masih banyak kebutuhan ini dan itu. Di tengah kebimbangan yang masih menggelayuti hatinya, di depan rumah ia bertemu dengan Pak Hasan, kawan ayahnya yang kini sama-sama sudah pensiun. Beliau adalah sahabat ayahnya yang jujur, terpercaya, dan sampai saat ini masih menjalin hubungan baik, meski terpisah dengan ayahnya yang kini berada Medan.
Pagi itu, Pak Hasan sedang berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ketika bertemu di depan rumah, beliau berhenti dan menanyakan kabar ayahnya, "Assalamu'alaikum. Eh, Pin, gimana kabar papa? Katanya ada acara qurban di kampung papa."
"Wa'alaikum Salam. Baik, om. Iya, papa memang selalu berqurban untuk masyarakat di sana."
"Siapa aja yang berqurban? Kamu qurban juga nggak?"
Ia pun menyebutkan beberapa saudara yang telah berkomitmen menyerahkan hewan qurban untuk kampung papanya. Ketika menjawab pada pertanyaan yang menyangkut dirinya, ia berujar, "Kalau saya, nggak tahu nih, om. Penginnya sih berqurban, tapi kayaknya masih banyak kebutuhan, om."
Buru-buru Pak Hasan itu langsung menyahut dan memotong ucapannya, "Gini, Pin. Kalau di hati kamu sudah terbetik niatan untuk berqurban, jangan kamu tunda, berqurbanlah. Saya tahu, sebagai anak muda, kamu pasti pengin yang macam-macam. Bersenang-senang lah, jalan-jalan lah. Tapi yakinlah, dengan berqurban, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kamu akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dibanding jika kamu tidak berqurban. Yakin itu."
Selanjutnya, mengalirlah dari mulut Pak Hasan itu beberapa kata hikmah tentang ibadah qurban dan pengalaman-pengalaman ibadah yang selama ini beliau lakukan.
Kata-kata Pak Hasan yang dipanggilnya om oleh Aripin itu, begitu menghipnotis dan mengunci mati keinginan hawa nafsunya yang masih ingin berhura-hura dan bersenang-senang itu.
Di akhir pembicaraan, tekad Aripin untuk berqurban pertama kali itu pun membulat. Hal itu dibuktikan dengan kata-katanya, "Iya dech, om. Saya akan berqurban. Terima kasih ya, om."
Pak Hasan tampak tersenyum puas karena bisa menundukkan jiwa anak muda yang semula diliputi kebimbangan itu.
***
Adakalanya kita bersikap seperti Aripin, tatkala muncul di hadapan kita peluang untuk menyisihkan sebagian harta guna berqurban. Tiba-tiba saja terbayang di benak kita aneka kebutuhan yang masih tertunda dan "harus" dipenuhi segera. Padahal jika kita pikir ulang, kebutuhan itu bukanlah kebutuhan sebenarnya yang bersifat mendesak, melainkan hanya sekedar keinginan hawa nafsu belaka.
Dalam kondisi seperti itu, bagi yang memiliki kelebihan harta, sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atau tidak. Bukankah harta yang diperoleh selama ini adalah anugerah dan pemberianNya? Kenapa ketika Allah SWT menghendaki kita menyisihkan sebagian kecil saja, timbul rasa berat di dalam jiwa? Sungguh jika kita mau berinstrospeksi betapa anugerah Allah SWT yang dilimpahkan kepada kita begitu banyak dan tak terhingga, hati kita akan merasa sangat ringan untuk berkorban.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." (QS. 108 : 1-2).
Jelas bahwa Allah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Kita lahir dalam kondisi tidak memiliki apa-apa. Maka segala apa yang ada pada kita, kini adalah semata-mata karena nikmat dariNya. Guna mewujudkan rasa syukur atas kenikmatan itu, maka jalan terbaik adalah memperkuat ketaatan kepada Allah SWT. Dan ibadah qurban adalah salah satu bentuk ketaatan yang dianjurkan olehNya.
Semoga kita bisa membuktikan rasa syukur kita dengan berkorban. Secara simbolis kita memang mengorbankan hewan ternak, namun secara substansi kita mengorbankan sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.
URL : http://kotasantri.com/beranda.php?aksi=Detail&sid=1176
---
Qurban Bersama KSP di Daerah Binaan
Klab Santri Peduli : Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut Hari Raya Qurban tiba, dimana umat muslim disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuanNya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Ismail, dan Siti Hajar, karena qurban merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bertepatan dengan hari qurban, insya Allah KSP akan memfasilitasi pequrban untuk berqurban di daerah binaan KSP yang merupakan daerah minus dan rawan aqidah, yakni di Kp. Pasanggrahan, Desa/Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. KSP menawarkan qurban sapi (± 250 kg) berjama'ah untuk (maksimal) tujuh orang, dengan biaya Rp. 1.250.000,- per orang, dan kambing (± 30 kg) dengan biaya Rp. 1.200.000,- per ekor.
Selain itu, KSP menerima InfaQurban dan partisipasi dalam bentuk yang lainnya. InfaQurban tersebut akan digunakan untuk keperluan pelaksanaan qurban. Berapa pun dan dalam bentuk apa pun partisipasi yang diberikan, insya Allah akan sangat bermanfaat untuk kelancaran pelaksanaan qurban. Semoga semangat keluarga Nabi Ibrahim dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menggalang kekuatan dengan rela berkorban.
Selengkapnya : http://ksp.kotasantri.com/blog.php/jurnal/2008/11/03/qurban-bersama-ksp-di-daerah-binaan/
KotaSantri.com : Rasulullah SAW adalah pemimpin ummat yang konsisten dalam menegakkan qiyamul lail. Beliau rela bersusah-payah menahan kantuk dan berdiri lama, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau, demi menahan kantuknya itu, mengikatkan badan beliau pada suatu penahan agar beliau tetap tegak berdiri (tidak jatuh), padahal beliau telah dijamin oleh Allah SWT dengan surgaNya. Tak ayal, bengkak-bengkak pada kaki Rasulullah SAW pun timbul akibat lamanya beliau berdiri ketika bermunajat di sepertiga malam terakhir itu. Subhanallah. Ketika isteri beliau bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, kenapa engkau bersusah payah dalam beribadah padahal Allah telah menjaminmu dengan surga?" Dengan retoris, Rasulullah SAW menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hambaNya yang bersyukur?"
Kisah tersebut adalah kisah indah yang membekaskan banyak hikmah. Pertanyaan yang dilontarkan oleh isteri beliau seakan mewakili sebuah pertanyaan yang lazim pada diri kita sekarang ini. Kita heran ketika seorang hamba diberikan dispensasi untuk bersenang-senang atau bersantai-santai, dia justru tidak mau memanfaatkannya. Kita heran ketika menyaksikan orang yang sudah kaya, tetapi dia tetap terus bekerja. Kita heran menyaksikan orang yang sudah pintar, tetapi dia tetap terus belajar. Dan lain sebagainya. Pertanyaan ini boleh jadi timbul karena yang bertanya adalah hawa nafsu kita, bukan hati nurani kita. Hawa nafsu cenderung pada kesenangan yang menipu, namun hati selalu cenderung pada kesenangan yang hakiki.
Terus belajar, terus bekerja, terus berintrospeksi, dan memperbaiki diri adalah wujud kesenangan hati yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Dia rela melakukan semua itu sebagai wujud cinta, bakti, dan syukur kepada Allah SWT. Posisi yang menguntungkan bukan makin melemahkan semangat, justru makin melejitkan semangat untuk terus berbuat sesuatu yang berarti demi meraih ridhaNya.
Dalam kaitannya dengan ibadah qurban, saya mengambil pelajaran bahwa Rasulullah SAW bercapai-capai, bersusah-payah mengurbankan fisiknya menegakkan qiyammul lail hanya karena ingin membuktikan bahwa beliau adalah hamba Allah yang bersyukur.
Menjadi hamba Allah yang bersyukur (abdan syakuran) agaknya bukan menjadi hal yang mudah, terlebih bagi kita yang masih banyak berkubang dengan dosa. Membuktikan syukur tidak sekedar dengan cara lisan mengucap "Alhamdulillah", tetapi yang lebih essensial adalah dengan ketatatan dan pengorbanan (baik harta atau jiwa) demi menegakkan suatu ibadah kepadaNya.
Cobalah kita renungkan, setiap ibadah pasti membutuhkan pengorbanan, baik materi maupun fisik. Shalat berjama'ah di masjid misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan pakaian yang menutupi aurat dan bebas dari najis. Dan secara fisik, ia mensyaratkan keringanan langkah menuju masjid. Mengenakan jilbab syar'i bagi muslimah misalnya. Secara materi, ia mensyaratkan bahan pakaian yang tidak transparan, longgar agar tidak membentuk lekukan tubuh, nyaman dipakai, sedikit mahal, dan lain-lain. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kesabaran ekstra dari sang muslimah untuk istiqamah mengenakannya. Bukankah mengenakan busana muslimah terkesan lebih "ribet" bagi orang tertentu dibanding dengan hanya menggenakan celana pendek dan kaos oblong saja? Hal ini cukup menunjukkan bahwa mengenakan jilbab pun memerlukan pengorbanan fisik di sana.
Contoh yang lebih gamblang adalah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Secara materi, ia mensyaratkan sejumlah dana harus dikeluarkan. Dan secara fisik, ia mensyaratkan kondisi kesehatan yang cukup prima untuk melaksanakannya. Dalam ibadah qurban pun, selain secara materi disyaratkan adanya sejumlah dana senilai hewan ternak tertentu, secara fisik dianjurkan adanya upaya tertentu, misalnya mengusahakan (memilih) kambing terbaik dan menyembelih sendiri hewan qurban itu.
***
Suatu ketika, Aripin, seorang anak muda yang bekerja di perkantoran elit, ditawarkan oleh ayahnya apakah ingin berqurban atau tidak, untuk masyarakat di sebuah desa kecil di Sipirok (kampung ayahnya). Sebagai anak muda yang baru beberapa tahun menikmati uang hasil dari bekerja, tentu keinginan yang ada di benaknya cukup beragam, yang jelas bukan untuk urusan ibadah seperti berqurban itu.
Namun kali ini, ia merasa bimbang. Sudah beberapa kali ia ditawari untuk berqurban oleh ayahnya, namun selalu saja ia mengelak dengan alasan masih banyak kebutuhan ini dan itu. Di tengah kebimbangan yang masih menggelayuti hatinya, di depan rumah ia bertemu dengan Pak Hasan, kawan ayahnya yang kini sama-sama sudah pensiun. Beliau adalah sahabat ayahnya yang jujur, terpercaya, dan sampai saat ini masih menjalin hubungan baik, meski terpisah dengan ayahnya yang kini berada Medan.
Pagi itu, Pak Hasan sedang berjalan-jalan mengelilingi komplek. Ketika bertemu di depan rumah, beliau berhenti dan menanyakan kabar ayahnya, "Assalamu'alaikum. Eh, Pin, gimana kabar papa? Katanya ada acara qurban di kampung papa."
"Wa'alaikum Salam. Baik, om. Iya, papa memang selalu berqurban untuk masyarakat di sana."
"Siapa aja yang berqurban? Kamu qurban juga nggak?"
Ia pun menyebutkan beberapa saudara yang telah berkomitmen menyerahkan hewan qurban untuk kampung papanya. Ketika menjawab pada pertanyaan yang menyangkut dirinya, ia berujar, "Kalau saya, nggak tahu nih, om. Penginnya sih berqurban, tapi kayaknya masih banyak kebutuhan, om."
Buru-buru Pak Hasan itu langsung menyahut dan memotong ucapannya, "Gini, Pin. Kalau di hati kamu sudah terbetik niatan untuk berqurban, jangan kamu tunda, berqurbanlah. Saya tahu, sebagai anak muda, kamu pasti pengin yang macam-macam. Bersenang-senang lah, jalan-jalan lah. Tapi yakinlah, dengan berqurban, kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kamu akan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar dibanding jika kamu tidak berqurban. Yakin itu."
Selanjutnya, mengalirlah dari mulut Pak Hasan itu beberapa kata hikmah tentang ibadah qurban dan pengalaman-pengalaman ibadah yang selama ini beliau lakukan.
Kata-kata Pak Hasan yang dipanggilnya om oleh Aripin itu, begitu menghipnotis dan mengunci mati keinginan hawa nafsunya yang masih ingin berhura-hura dan bersenang-senang itu.
Di akhir pembicaraan, tekad Aripin untuk berqurban pertama kali itu pun membulat. Hal itu dibuktikan dengan kata-katanya, "Iya dech, om. Saya akan berqurban. Terima kasih ya, om."
Pak Hasan tampak tersenyum puas karena bisa menundukkan jiwa anak muda yang semula diliputi kebimbangan itu.
***
Adakalanya kita bersikap seperti Aripin, tatkala muncul di hadapan kita peluang untuk menyisihkan sebagian harta guna berqurban. Tiba-tiba saja terbayang di benak kita aneka kebutuhan yang masih tertunda dan "harus" dipenuhi segera. Padahal jika kita pikir ulang, kebutuhan itu bukanlah kebutuhan sebenarnya yang bersifat mendesak, melainkan hanya sekedar keinginan hawa nafsu belaka.
Dalam kondisi seperti itu, bagi yang memiliki kelebihan harta, sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang bersyukur atau tidak. Bukankah harta yang diperoleh selama ini adalah anugerah dan pemberianNya? Kenapa ketika Allah SWT menghendaki kita menyisihkan sebagian kecil saja, timbul rasa berat di dalam jiwa? Sungguh jika kita mau berinstrospeksi betapa anugerah Allah SWT yang dilimpahkan kepada kita begitu banyak dan tak terhingga, hati kita akan merasa sangat ringan untuk berkorban.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." (QS. 108 : 1-2).
Jelas bahwa Allah memberikan kepada kita nikmat yang banyak. Kita lahir dalam kondisi tidak memiliki apa-apa. Maka segala apa yang ada pada kita, kini adalah semata-mata karena nikmat dariNya. Guna mewujudkan rasa syukur atas kenikmatan itu, maka jalan terbaik adalah memperkuat ketaatan kepada Allah SWT. Dan ibadah qurban adalah salah satu bentuk ketaatan yang dianjurkan olehNya.
Semoga kita bisa membuktikan rasa syukur kita dengan berkorban. Secara simbolis kita memang mengorbankan hewan ternak, namun secara substansi kita mengorbankan sifat-sifat buruk dari dalam diri kita.
URL : http://kotasantri.com/beranda.php?aksi=Detail&sid=1176
---
Qurban Bersama KSP di Daerah Binaan
Klab Santri Peduli : Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut Hari Raya Qurban tiba, dimana umat muslim disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuanNya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Ismail, dan Siti Hajar, karena qurban merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bertepatan dengan hari qurban, insya Allah KSP akan memfasilitasi pequrban untuk berqurban di daerah binaan KSP yang merupakan daerah minus dan rawan aqidah, yakni di Kp. Pasanggrahan, Desa/Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. KSP menawarkan qurban sapi (± 250 kg) berjama'ah untuk (maksimal) tujuh orang, dengan biaya Rp. 1.250.000,- per orang, dan kambing (± 30 kg) dengan biaya Rp. 1.200.000,- per ekor.
Selain itu, KSP menerima InfaQurban dan partisipasi dalam bentuk yang lainnya. InfaQurban tersebut akan digunakan untuk keperluan pelaksanaan qurban. Berapa pun dan dalam bentuk apa pun partisipasi yang diberikan, insya Allah akan sangat bermanfaat untuk kelancaran pelaksanaan qurban. Semoga semangat keluarga Nabi Ibrahim dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menggalang kekuatan dengan rela berkorban.
Selengkapnya : http://ksp.kotasantri.com/blog.php/jurnal/2008/11/03/qurban-bersama-ksp-di-daerah-binaan/
MAKNA TERTINGGI SHALAT ARBAIN
Jemaah haji Indonesia yang
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:
Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu'' bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan." (HR
Ahmad dan At-Thabrany)
Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.
Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:
Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).
Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri'tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bertanya,
'Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?". Para Sahabat menjawab, 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.'" (HR. Muslim)
Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.
Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.
Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.
Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.
Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.
Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!
H. Bobby Herwibowo
berangkat dalam gelombang I kini tengah berada di Madinah Al Munawarah.
Mereka berada di sana selama 8-9 hari lamanya. Berbagai
aktifitas ibadah mereka lakukan di sana.
Mulai dari shalat fardhu yang lima
waktu, ibadah-ibadah sunnah, berziyarah ke makam Rasulullah Saw dan para
sahabat, dan melakukan Shalat Arbain. Apa itu Arbain? Arbain adalah sebuah
silsilah ibadah shalat fardhu yang dilakukan sebanyak 40 kali tanpa terputus
sekalipun. Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang
berbunyi:
Dari Anas bin Malik yang
diriwayatkan secara marfu'' bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang
shalat di masjidku (nabawi) sebanyak 40 kali shalat tidak terlewat satu kali
pun, maka telah ditetapkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari
adzab dan kemunafikan." (HR
Ahmad dan At-Thabrany)
Meski terdapat
perdebatan mengenai status hadits ini, namun yang perlu menjadi perhatian kita
semua adalah bagaimana hikmah terpenting yang dapat diambil dari pelajaran
Shalat Arbain bagi setiap jemaah haji yang melakukannya.
Rasulullah Saw pernah
bersabda bahwa shalat di masjid Nabawi pahalanya adalah 1000 kali lipat
dibanding shalat di tempat lain. Sebagaimana sabdanya:
Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali
dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di
Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya. (HR.
Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim).
Hadits ini menjadi
stimulan dan motivasi bagi setiap muslim yang berada di Madinah untuk
memperbanyak ibadah di masjid Nabawi wa
bil khusus ibadah shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka tak jarang demi
mempertahankan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, terlihat banyak sekali jemaah
haji yang rela beri'tikaf di masjid berlama-lama hanya demi menunggu datangnya
waktu shalat berjamaah. Dari waktu shalat yang satu ke waktu yang lain mereka
semua menanti dengan penuh harap. Hal ini seperti yang digambarkan dalam hadits
Rasulullah Saw:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW bertanya,
'Maukah kalian aku tunjukan amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat
mengangkat derajat (di surga)?". Para Sahabat menjawab, 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak disukai,
memperbanyak langkah ke mesjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat.
Itulah yang harus kalian utamakan.'" (HR. Muslim)
Spirit yang mereka
rasakan saat menjalankan ibadah Shalat Arbain di Masjid Nabawi adalah betapa
mereka merasa sayang apabila tertinggal shalat berjamaah meski hanya satu kali,
sebab hal itu akan membuat Arbain yang hendak mereka capai menjadi gugur.
Pernah suatu saat ada
seorang jemaah haji dari Indonesia
yang begitu sigap menghadiri shalat
berjamaah di Masjid Nabawi. Namun begitu terdengar iqamah berkumandang,
tiba-tiba ia merasakan perutnya tidak beres dan ia pun pergi ke toilet untuk
mengambil air wudhu lagi. Ia hanya tertinggal takbiratul ihram imam shalat, bukannya tertinggal shalat berjamaah.
Namun ia menyatakan penyesalannya sebab ia datang terlambat menghadiri shalat
berjamaah.
Begitu bersemangat dan
pantang menyerah mereka mempertahankan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Dan
itulah gambaran kaum muslimin sejati yang sigap menjawab panggilan Allah Swt
saat adzan berkumandang.
Jemaah haji yang
tengah menjalani ibadah Shalat Arbain di Madinah tengah belajar menghilangkan
sifat kemunafikan dalam diri mereka dan menghadiri panggilan Allah Swt saat
adzan berkumandang. Hal itu seperti yang termaktub dalam hadits Shalat Arbain
di atas bahwa hikmah dari ibadah tersebut adalah membebaskan manusia dari sifat
munafik dan membebaskan mereka dari belenggu api neraka.
Hanya muslim yang
berpasrah diri kepada Allah yang ringan untuk menjawab pangggilan Allah Swt,
baik secara jiwa maupun harta. Maka ibadah shalat fardhu empat puluh waktu atau Arbain inilah yang melatih
mereka untuk menjadi hamba Allah yang tulen, yang terbebas dari kungkungan
dunia dan terbebas dari belenggu kemunafikan dirinya.
Semoga sekembalinya
para jemaah haji dari tanah suci, mereka akan terus diberi kekuatan untuk
menghadiri shalat berjamaah di rumah-rumah Allah yang berada di lingkungan
mereka. Amien!
H. Bobby Herwibowo
Selasa, 25 November 2008
14 Tahun menanti untuk berqurban
Dadang, 33 tahun, seorang buruh pabrik di Bandung, Jawa
Barat. Sebagai buruh pabrik hanya hanya lulusan SLTA, gaji
yang diterimanya pun pas-pasan. "Hanya bertahan di sepekan
pertama setelah gajian," terangnya tentang seberapa cukup
gaji yang diterima
nya untuk menopang hidup. Hari-hari selanjutnya setelah
pekan pertama itu, ia jalani dengan penuh keprihatinan.
Beruntung ia masih memiliki sepeda untuk ke tempat kerja
nya, sementara isterinya mencari penghasilan tambahan
dengan mencuci pakaian tetangganya.
Namun, keterbatasan dan kekurangan tak pernah menyurutkan
niatnya untuk bisa berqurban. "Malu saya jika setiap tahun
hanya menjadi penerima daging q urban. Saya kira jauh
lebih nikmat jika kita sendiri yang berqurban,"
semangatnya tak pernah padam jika bicara tentang dua
impiannya, berqurban dan pergi ke tanah suci. Tetapi
menurut nya, tahap pertama dan yang paling mungkin ia
lakukan adalah berqurban.
Ternyata, berqurban bagi seorang Dadang bukanlah hal
mudah. Tahun 1991, ketika baru lulus SLTA dan mendapatkan
pekerjaan, ia langsung bertekad, "Saya ingin berhaji suatu
saat, semoga cita-cita yang terkabul," sembari
menambahkan, target pertama sebelum berhaji adalah membeli
seekor kambing untuk diqurbankan. Saat itu ia belum
menikah dan masih tinggal bersama orang tuanya. Sebagai
anak pertama dari empat bersaudara, ia merasa berkewajiban
untuk membantu meringankan beban orangtuanya dengan
memberi sebagian penghasilannya untuk biaya sekolah
adik-adiknya. "Gaji saya waktu itu cuma dua ratusan ribu,
sebagian untuk biaya sekolah adik, sebagian lainnya
disimpan untuk pegangan".
Lima ribu rupiah, nilai yang bisa di tabungnya setiap
bulan untuk meraih impiannya berqurban. "Tidak peduli
perlu waktu berapa tahun untuk bisa terkumpul uang seharga
seekor kambing, yang penting tekad saya harus seratus
persen," tegasnya bersemangat. Tentang tekadnya ini, ia
tak pernah berkompromi untuk urusan dan kebutuhan apa pun,
yang pasti lima ribu rupiah harus ditabung setiap
bulannya.
Tekad seratus persen memang semestinya tak boleh
terkalahkan oleh apa pun. Empat tahun bekerja mengumpulkan
uang antara lima sampai sepuluh ribu setiap bulannya,
Dadang mengantongi cukup uang untuk membeli seekor kambing
untuk berqurban. Bahkan keinginannya untuk melanjutkan
sekolah di tahun 1995 ia redam demi seekor hewan qurban.
Pekan ketiga di bulan Ramadhan 1417 H, berbinar mata
Dadang menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan karena ia
bisa membeli baju baru, tetapi karena ia merasa punya
tambahan untuk membeli seekor kambing untuk qurban di hari
raya Idul Adha.
Tetapi di tahun itu juga, saat wajahnya be rseri menjelang
terwujudnya impian untuk berqurban, Dadang harus ikhlas
merelakan uang untuk membeli seekor kambing dipakai untuk
biaya masuk sekolah adiknya. "Saya ikhlas. Pasti Allah
yang mengatur semua ini, dan saya percaya masih ada
kesempatan saya di tahun-tahun depan," sebuah pemelajaran
berharga tentang makna berqurban sesungguhnya.
Dadang tak putus asa. Ia kembali merajut hari, menghitung
penghasilannya sebagai buruh pabrik serta menyisihkan
sebagian kecil untuk ditabung. "Untuk hewan qurban impian
saya," jelasnya. Setelah sekitar tiga tahun menabung,
cobaan atas tekadnya itu kembali datang, kali ini
cobaannya berupa keinginan Dadang untuk menikah. "Usia
saya sudah pantas untuk menikah, lagi pula sudah ada
calonnya. Saya tidak ingin berlama-lama punya hubungan
tanpa status, takut dosa," lagi-lagi uang tabungannya
terpakai untuk menikah. Saat itu, Dadang sedikit berkilah,
"Toh sama-sama ibadah".
Hari-hari setelah menikah dibayangkan Dadang akan semakin
m udah baginya untuk menabung demi hewan qurban impiannya.
Sebab, pikir Dadang, kini ia tak sendirian menabung. Ia
bisa mengajak isterinya yang juga bekerja untuk ikut
menabung agar di tahun depan bisa membeli hewan qurban.
Konon, kenyataan hidup tak pernah seindah mimpi. Begitu
pula yang dialami Dadang selama bertahun-tahun mengarungi
bahtera rumah tangga bersama isterinya, Yenni. Terlebih
setelah melahirkan putra pertama mereka satu tahun setelah
menikah, Yenni tak lagi bekerja. Dadang pun harus
sendirian membanting tulang menafkahi keluarga, belum lagi
permintaan orang tuanya untuk ikut membantu biaya
pendidikan adik bungsunya. Tetapi dalam keadaan seperti
itu, Dadang selalu teringat niatnya beberapa tahun lalu
untuk bisa berqurban. "Semoga tak hanya tinggal impian,
saya masih bertekad mewujudkannya," kalimat ini menutup
lamunannya.
Meski sedikit, ia paksakan diri untuk terus menabung.
Kadang, tabungan yang terkumpul terganggu oleh kebutuhan
dapur atau su su si kecil. Kebutuhannya bertambah besar,
dengan bertambahnya anggota keluarga di rumah Dadang.
Dengan dua anak, si sulung butuh biaya sekolah, sedangkan
si kecil perlu susu dan makanan bergizi, nampaknya Dadang
harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk berqurban,
apalagi pergi haji ke tanah suci.
Dadang, lelaki berbadan kurus itu tetap menggenggam tekad
berqurbannya dalam genggamannya. Ia tak pernah melepaskan
dan membiarkan mimpinya terbang tak berwujud. Setelah
empat belas tahun menunggu, tahun 1428 H, impiannya untuk
berqurban terwujud sudah. Sebuah perjuangan maha berat
selama bertahun-tahun yang dilewatinya terasa begitu
ringan setelah ia melunasi mimpinya menyembelih hewan
qurbannya dengan tangannya sendiri.
Cermin kepuasan tersirat di wajahnya. Empat belas tahun,
waktu yang takkan pernah dilupakan sepanjang hidupnya
untuk sebuah mimpi. "Target saya berikutnya adalah
berhaji, entah berapa lama waktu saya untuk mewujudkannya.
Saya tak peduli," ujarnya sa mbil tersenyum.
***
Seberapa berat perjuangan dan pengorbanan kita untuk
melakukan sesuatu? (Ryan Potlot)
taken from : Daarut-tauhiid mailling list
Barat. Sebagai buruh pabrik hanya hanya lulusan SLTA, gaji
yang diterimanya pun pas-pasan. "Hanya bertahan di sepekan
pertama setelah gajian," terangnya tentang seberapa cukup
gaji yang diterima
nya untuk menopang hidup. Hari-hari selanjutnya setelah
pekan pertama itu, ia jalani dengan penuh keprihatinan.
Beruntung ia masih memiliki sepeda untuk ke tempat kerja
nya, sementara isterinya mencari penghasilan tambahan
dengan mencuci pakaian tetangganya.
Namun, keterbatasan dan kekurangan tak pernah menyurutkan
niatnya untuk bisa berqurban. "Malu saya jika setiap tahun
hanya menjadi penerima daging q urban. Saya kira jauh
lebih nikmat jika kita sendiri yang berqurban,"
semangatnya tak pernah padam jika bicara tentang dua
impiannya, berqurban dan pergi ke tanah suci. Tetapi
menurut nya, tahap pertama dan yang paling mungkin ia
lakukan adalah berqurban.
Ternyata, berqurban bagi seorang Dadang bukanlah hal
mudah. Tahun 1991, ketika baru lulus SLTA dan mendapatkan
pekerjaan, ia langsung bertekad, "Saya ingin berhaji suatu
saat, semoga cita-cita yang terkabul," sembari
menambahkan, target pertama sebelum berhaji adalah membeli
seekor kambing untuk diqurbankan. Saat itu ia belum
menikah dan masih tinggal bersama orang tuanya. Sebagai
anak pertama dari empat bersaudara, ia merasa berkewajiban
untuk membantu meringankan beban orangtuanya dengan
memberi sebagian penghasilannya untuk biaya sekolah
adik-adiknya. "Gaji saya waktu itu cuma dua ratusan ribu,
sebagian untuk biaya sekolah adik, sebagian lainnya
disimpan untuk pegangan".
Lima ribu rupiah, nilai yang bisa di tabungnya setiap
bulan untuk meraih impiannya berqurban. "Tidak peduli
perlu waktu berapa tahun untuk bisa terkumpul uang seharga
seekor kambing, yang penting tekad saya harus seratus
persen," tegasnya bersemangat. Tentang tekadnya ini, ia
tak pernah berkompromi untuk urusan dan kebutuhan apa pun,
yang pasti lima ribu rupiah harus ditabung setiap
bulannya.
Tekad seratus persen memang semestinya tak boleh
terkalahkan oleh apa pun. Empat tahun bekerja mengumpulkan
uang antara lima sampai sepuluh ribu setiap bulannya,
Dadang mengantongi cukup uang untuk membeli seekor kambing
untuk berqurban. Bahkan keinginannya untuk melanjutkan
sekolah di tahun 1995 ia redam demi seekor hewan qurban.
Pekan ketiga di bulan Ramadhan 1417 H, berbinar mata
Dadang menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bukan karena ia
bisa membeli baju baru, tetapi karena ia merasa punya
tambahan untuk membeli seekor kambing untuk qurban di hari
raya Idul Adha.
Tetapi di tahun itu juga, saat wajahnya be rseri menjelang
terwujudnya impian untuk berqurban, Dadang harus ikhlas
merelakan uang untuk membeli seekor kambing dipakai untuk
biaya masuk sekolah adiknya. "Saya ikhlas. Pasti Allah
yang mengatur semua ini, dan saya percaya masih ada
kesempatan saya di tahun-tahun depan," sebuah pemelajaran
berharga tentang makna berqurban sesungguhnya.
Dadang tak putus asa. Ia kembali merajut hari, menghitung
penghasilannya sebagai buruh pabrik serta menyisihkan
sebagian kecil untuk ditabung. "Untuk hewan qurban impian
saya," jelasnya. Setelah sekitar tiga tahun menabung,
cobaan atas tekadnya itu kembali datang, kali ini
cobaannya berupa keinginan Dadang untuk menikah. "Usia
saya sudah pantas untuk menikah, lagi pula sudah ada
calonnya. Saya tidak ingin berlama-lama punya hubungan
tanpa status, takut dosa," lagi-lagi uang tabungannya
terpakai untuk menikah. Saat itu, Dadang sedikit berkilah,
"Toh sama-sama ibadah".
Hari-hari setelah menikah dibayangkan Dadang akan semakin
m udah baginya untuk menabung demi hewan qurban impiannya.
Sebab, pikir Dadang, kini ia tak sendirian menabung. Ia
bisa mengajak isterinya yang juga bekerja untuk ikut
menabung agar di tahun depan bisa membeli hewan qurban.
Konon, kenyataan hidup tak pernah seindah mimpi. Begitu
pula yang dialami Dadang selama bertahun-tahun mengarungi
bahtera rumah tangga bersama isterinya, Yenni. Terlebih
setelah melahirkan putra pertama mereka satu tahun setelah
menikah, Yenni tak lagi bekerja. Dadang pun harus
sendirian membanting tulang menafkahi keluarga, belum lagi
permintaan orang tuanya untuk ikut membantu biaya
pendidikan adik bungsunya. Tetapi dalam keadaan seperti
itu, Dadang selalu teringat niatnya beberapa tahun lalu
untuk bisa berqurban. "Semoga tak hanya tinggal impian,
saya masih bertekad mewujudkannya," kalimat ini menutup
lamunannya.
Meski sedikit, ia paksakan diri untuk terus menabung.
Kadang, tabungan yang terkumpul terganggu oleh kebutuhan
dapur atau su su si kecil. Kebutuhannya bertambah besar,
dengan bertambahnya anggota keluarga di rumah Dadang.
Dengan dua anak, si sulung butuh biaya sekolah, sedangkan
si kecil perlu susu dan makanan bergizi, nampaknya Dadang
harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk berqurban,
apalagi pergi haji ke tanah suci.
Dadang, lelaki berbadan kurus itu tetap menggenggam tekad
berqurbannya dalam genggamannya. Ia tak pernah melepaskan
dan membiarkan mimpinya terbang tak berwujud. Setelah
empat belas tahun menunggu, tahun 1428 H, impiannya untuk
berqurban terwujud sudah. Sebuah perjuangan maha berat
selama bertahun-tahun yang dilewatinya terasa begitu
ringan setelah ia melunasi mimpinya menyembelih hewan
qurbannya dengan tangannya sendiri.
Cermin kepuasan tersirat di wajahnya. Empat belas tahun,
waktu yang takkan pernah dilupakan sepanjang hidupnya
untuk sebuah mimpi. "Target saya berikutnya adalah
berhaji, entah berapa lama waktu saya untuk mewujudkannya.
Saya tak peduli," ujarnya sa mbil tersenyum.
***
Seberapa berat perjuangan dan pengorbanan kita untuk
melakukan sesuatu? (Ryan Potlot)
taken from : Daarut-tauhiid mailling list
Senin, 24 November 2008
Mendidik Anak Meraih Sukses Keluarga
Oleh: Mochamad Bugi
Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74. Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.
Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.
Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”
Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta: rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali Imran (3): 185]
Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.
Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting keluarga, yaitu:
1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang diamanahkan.
2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.
Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” [QS. An-Nisa (4): 9]
Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]
Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).
Step to step-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.
Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:
1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an
2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.
3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup
4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap yang dimurkai Allah.
5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.
6. Membekalinya dengan keterampilan hidup.
7. Membekalinya dengan keterampilan belajar.
8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi).
taken from : www.dakwatuna.com
Posisi anak dalam keluarga ada dua. Pertama, sebagai penyambung generasi –lihat QS. Al-Anbiya (21): 89. Sebagai penyambung generasi, anak menjadi pewaris karya yang dihasilkan orang tuanya –lihat QS. 19: 6.—dan penyejuk jiwa orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74. Yang kedua, sebagai pelanjut tugas dan cita-cita orang tuanya –lihat QS. Al-Furqan (25): 74.
Perlakuan orang tua terhadap anaknya sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih yang diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Karena itu, pastikan Anda tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga.
Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah swt. menyebebutkan dalam QS. At-Tahrim (66): 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”
Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta: rabbana aatinaa fiid dunya hasanah wa fiil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar. Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di duniah dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka. Allah swt. berfirman, “Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” [QS. Ali Imran (3): 185]
Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting. Jadikan anak sebagai aset penting untuk meraih sukses keluarga. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.
Ada dua ciri yang menandakan bahwa Anda telah merasakan anak Anda adalah aset penting keluarga, yaitu:
1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipan Allah kepada Anda tidak menjadi seperti yang diamanahkan.
2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.
Allah swt. pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita. “Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” [QS. An-Nisa (4): 9]
Di ayat itu juga Allah swt. memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Allah, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). [Lihat QS. Al-Ahzab (33): 70-71]
Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Allah swt. dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).
Step to step-nya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak Anda lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Allah swt. Doakan selalu anak Anda.
Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:
1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an
2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Allah swt.
3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi saw., keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup
4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhai Allah; dan menjadikanya benci terhadap yang dimurkai Allah.
5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang.
6. Membekalinya dengan keterampilan hidup.
7. Membekalinya dengan keterampilan belajar.
8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sain dan teknologi).
taken from : www.dakwatuna.com
Jumat, 21 November 2008
Saat Ujian dan Cobaan Datang Menerpa
Begitu deras dan kerasnya ujian dan cobaan sehingga terasa menyesakkan dada dan mematahkan semangat. Airmata perlahan tumpah karena tak dapat membendung gejolak kesedihan. Di antara mereka ada yang jatuh terpuruk menjadi lemah, dan sebagiannya lagi berusaha bangkit menjadi kuat.
Si kuat dan si lemah akan menemui siapa saja. Ada seorang fakir yang sabar dengan kefakirannya. Namun ada seorang kaya yang tidak sabar dengan kekayaannya. Seorang awam bisa hidup bahagia, namun ada seorang ilmuwan hidup menderita lantas kemudian bunuh diri. Sesungguhnya kuat dan lemahnya jiwa seseorang sangat tergantung pada keimanan yang ada dalam hatinya.
Rasulullah saat sedang mendapat ujian dan cobaan, lebih banyak mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Beliau berdoa kepada Allah dengan hati penuh kepasrahan. Beliau yakin dengan datangnya pertolongan Allah, karena Allah sendiri mengatakan bahwa pertolongan-Nya sangatlah dekat. Mungkin kita saja yang tidak menyadari bahwa pertolongan itu sedikit demi sedikit datang menemui kita.
Kekuatan taqarrub membawa kita pada ketenangan dan kedamaian serta sikap optimis akan masa depan. Masa depan yang jauh lebih membahagiakan dari hari-hari sebelumnya. Masa depan yang penuh dengan kemenangan.
Dialah yang mengendalikan, menciptakan, dan mematikan alam semesta ini. Sangatlah mudah menolong hamba-Nya dalam sekejap, melebihi kedipan mata. Jika pertolongan itu datang terlambat, pasti ada hikmah di baliknya. Mungkin saja selama ini kita kurang mendekatkan diri kepada Allah. Atau kita terlalu banyak berbuat maksiat sehingga dengan sendirinya taqarrub itu hanya sebagai sarana penggugur dosa-dosa kita. Allah Mahatahu mana yang terbaik untuk kita.
Mendekatlah kepada-Nya dengan sedekat-dekatnya. Beribadahlah dengan penuh keikhlasan dan kekhusyuan. Bersabarlah dan shalatlah karena dengan keduanya pertolongan Allah akan datang. Oleh karena itu, tingkatkan kesabaranmu dan tingkatkan kualitas dan kuantitas shalatmu.
Ibnu Taimiyah, ulama besar yang dijuluki Syaikhul Islam, pernah berkata, "Bila aku di benturkan suatu masalah berat, lalu aku beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali, kurang atau lebih. Kemudian Allah Swt. memberikan jalan keluarnya kepadaku."
http://abufarras.blogspot.com
Si kuat dan si lemah akan menemui siapa saja. Ada seorang fakir yang sabar dengan kefakirannya. Namun ada seorang kaya yang tidak sabar dengan kekayaannya. Seorang awam bisa hidup bahagia, namun ada seorang ilmuwan hidup menderita lantas kemudian bunuh diri. Sesungguhnya kuat dan lemahnya jiwa seseorang sangat tergantung pada keimanan yang ada dalam hatinya.
Rasulullah saat sedang mendapat ujian dan cobaan, lebih banyak mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Beliau berdoa kepada Allah dengan hati penuh kepasrahan. Beliau yakin dengan datangnya pertolongan Allah, karena Allah sendiri mengatakan bahwa pertolongan-Nya sangatlah dekat. Mungkin kita saja yang tidak menyadari bahwa pertolongan itu sedikit demi sedikit datang menemui kita.
Kekuatan taqarrub membawa kita pada ketenangan dan kedamaian serta sikap optimis akan masa depan. Masa depan yang jauh lebih membahagiakan dari hari-hari sebelumnya. Masa depan yang penuh dengan kemenangan.
Dialah yang mengendalikan, menciptakan, dan mematikan alam semesta ini. Sangatlah mudah menolong hamba-Nya dalam sekejap, melebihi kedipan mata. Jika pertolongan itu datang terlambat, pasti ada hikmah di baliknya. Mungkin saja selama ini kita kurang mendekatkan diri kepada Allah. Atau kita terlalu banyak berbuat maksiat sehingga dengan sendirinya taqarrub itu hanya sebagai sarana penggugur dosa-dosa kita. Allah Mahatahu mana yang terbaik untuk kita.
Mendekatlah kepada-Nya dengan sedekat-dekatnya. Beribadahlah dengan penuh keikhlasan dan kekhusyuan. Bersabarlah dan shalatlah karena dengan keduanya pertolongan Allah akan datang. Oleh karena itu, tingkatkan kesabaranmu dan tingkatkan kualitas dan kuantitas shalatmu.
Ibnu Taimiyah, ulama besar yang dijuluki Syaikhul Islam, pernah berkata, "Bila aku di benturkan suatu masalah berat, lalu aku beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali, kurang atau lebih. Kemudian Allah Swt. memberikan jalan keluarnya kepadaku."
http://abufarras.blogspot.com
Kamis, 20 November 2008
Kisah Bersama Kesulitan, Ada Kemudahan dan Kebahagiaan
Konon di sebuah kota di Timur Jauh, hiduplah seorang gadis bernama Fatimah.
Ayahnya adalah seorang pemintal yang sukses. Suatu hari ayahnya akan mengadakan
perjalanan jauh untuk memasarkan hasil pintalannya dan juga untuk mengajak
Fatimah berlayar "mencari" pendamping hidup Fatimah, yang shaleh dan tampan...
Mereka berlayar melalui pulau-pulau. Sang Ayah berdagang, sedang Fatimah
mendambakan seorang suami yang shaleh dan tampan... Namun saat berlayar menuju
Krete, kapalnya diterjang badai. Kapal pun hancur dan Fatimah tidak sadarkan
diri. Saat tersadar, Fatimah sudah terbaring di pantai Alexandria. Sang Ayah dan
semua awak kapal tewas. Fatimah sangat sedih, ia benar-benar menjadi miskin dan
hidup seorang diri.
Ketika Fatimah menelusuri pantai, sebuah keluarga pembuat kain menemukannya.
Diajaknya Fatimah ke rumah dan diajarinya ia membuat kain. Itulah kehidupan
kedua yang dijalani Fatimah. Lama-kelamaan Fatimah menjadi batah dan bahagia. Ia
pun menjadi sangat mahir untuk membuat kain. Dan dia pun sudah melupakan
penderitaannya.
Suatu hari, saat Fatimah sedang berada di pantai, sekelompok pedagang budak
mendarat dan membawa Fatimah pergi bersama tawanan-tawanan yang lain. Fatimah
dibawa ke Istambul untuk dijual sebagai budak. Dunianya runtuh untuk kedua
kalinya. Beberapa pembeli telah berkumpul untuk memilih budak-budak. Salah
seorang membawa Fatimah untuk dijadikan pembantu istrinya. Orang itu sebenarnya
sedang mencari budak untuk dipekerjakan membuat tiang-tiang kapal, namun ketika
melihat Fatimah dia merasa iba dan mencoba untuk menolongnya.
Malang tak dapat ditolak, di perjalanan mereka bertemu dengan rombongan
perompak. Semua harta miliknya dirampas. Uang yang disimpan di petipun digondol,
sehingga ia tidak bisa membayar tukang-tukang kayu yang bekerja. Mereka jatuh
miskin. Dan Fatimah Fatimah terpaksa membantu belajar membuat tiang-tiang kapal,
sebuah pekerjaan yang kasar untuk ukuran seorang gadis cantik dan lembut seperti
Fatimah. Namun ia jalani kehidupan itu, hingga akhirnya iapun mahir membuat
tiang-tiang kapal.
Walau begitu, Fatimah berterima kasih pada majikannya, karena telah
menyelematkannya dari gerombolan penjual budak yang kasar dan kejam. Dan karena
ketekunan dan kerajinannya, sang majikan memberi kepercayaan besar pada Fatimah,
sehingga Fatimah sangat bahagia untuk yang ketiga kalinya.
Suatu hari, majikannya berkata, "Fatimah, aku ingin kamu pergi dengan kargo
berisi tiang-tiang kapal ke Pulau Jawa sebagai agenku, dan pastikan kau
menjualnya dengan harga yang baik dan keuntungan yang besar." Fatimah pun
mengiyakannya dan dengan langkah mantap, serta diawali dengan bismillahi
tawakkaltu alallah.. La haula wala quwwawta illa billah.. ia berangkat.
Ketika kapalnya melewati Laut Cina, kapalnya dihantam topan besar. Fatimah
mendapatinya dirinya, lagi-lagi terdampar di sebuah pantai, di kepulauan yang
asing baginya. Fatimah kembali meratapi nasibnya yang bertubi-tubi ditimpa
kemalangan; ketika semua tampak lancar, sesuatu muncul dengan tiba-tiba dan
menghancurkannya. Itulah kehidupannya. Dan sebagai seorang manusia biasa
terkadang rasa putus asa menerpanya. "Mengapa nasibku seperti ini, mengapa?"
Fatimah meratapi nasibnya, namun ketika teringat, ia segera beristighfar meminta
ampunan kepada Allah. Ia yakin, pasti ada hikmah besar di balik segala
penderitaannya tersebut. Fatimah pun melangkah ke Pedalaman.
Saat itu di Cina tak seorang pun mendengar cerita tentang Fatimah atau
mengenalnya. Tetapi ada legenda yang berdar di sana, bahwa sautu hari akan
datang seorang perempuan asing yang mampu membuat tenda istimewa untuk sang
Kaisar. Tak seorang pun di Cina yang mampu membuat tenda, maka mereka berharap
hal ini akan terwujud.
Dalam upaya ini, sang Kaisar telah berusaha, agar setiap ada perempuan asing
yang datang, untuk dihadapkan kepada Kaisar. Setahun sekali, sang Kaisar
mengirimkan tentaranya ke seluruh pelosok negeri, mencari sang wanita asing yang
dinanti-nanti...
Ketika Fatimah memasuki sebuah kota di Pantai Cina, maka melalui penerjemah
mereka mewajibkan Fatimah untuk menghadap sang Kaisar ke Istana. "Bisakah kamu
membuat tenda?" tanyak sang Kaisar ketika Fatimah menghadap kepadanya. "Ya, saya
bisa Tuan." Jawab Fatimah lembut.
Fatimah meminta seutas tali, namun tak seorang pun memilikinya. Ia pun segera
mengumpulkan batang rami, dan memintalnya menjadi untaian tali. Ia teringat saat
membantu ayahnya sebagai pemintal tali.
Lalu Fatimah meminta kain, namun tak seorang pun yang mengenal kain. Maka
Fatimah dengan pengalamannya di Alexandria, pada sebuah keluarga yang
menolongnya, iapun meyiapkan diri untuk membuat kain yang bagus dan kuat.
Fatimah kemudian meminta tiang, namun ketika itu tidak ada sebuah tiapun di
negeri Cina. Fatimah dengan pengalamannya bekerja dengan tukang pembuat tiang
kapal di Istambul, mulai mencari batang kayu dan menyiapkannya menjadi tiang.
Dan ketika semuanya telah siap, Fatimah memutar kembali pengalamannya selama
dalam perjalanan, tentang tenda-tenda yang pernah dilihatnya, sejauh
perjalanannya menjelajahi manis pahitnya dunia... Akhirnya, dengan ketekunan,
keuletan, kesabaran dan ketelitiannya jadilah sebuah tenda yang kuat dan sangat
indah...
Ketika melihat tenda buatan Fatimah, semua orang terkagum-kagum. Sang Kaisar
yang tampan menawarkan akan memberi apa saja yang diinginkan Fatimah. Fatimah
akhirnya memilih untuk tinggal di Negeri Cina dan menikah dengan Pangeran yang
tampan, yang kemudian hari menjadi seorang pangeran yang sangat shaleh... Mereka
hidup bagiah dikelilingi anak-anak mereka yang shaleh dan shalehah....
Melalui petualangan-petualangan inilah Fatimah sadar, bahwa
pengalaman-pengalaman yang tampak tidak menyenangkan, berubah menjadi bagian
penting dalam kebahagiaan dan kesuksesan hidupnya....
Dikutip dari buku Time To Change, Hari Subagya. Dengan sedikit perubahan pada
beberapa alur kisah dan redaksinya, agar sesuai dengan kondisi "ke-kitaan".
Catatan :
Sekiranya Fatimah tidak dihantam ombak yang besar, yang mengakibatkannya
terdampar sebatang kara di Alexandria.... Sekiranya Fatimah tidak dibawa para
pencari budak, dan dijual di Istambul... Sekiranya orang yang iba dan
menolongnya di Istambul tidak dirampok oleh sekawanan perompak... Sekiranya
Fatimah tidak dihantam ombak dan terdampar untuk kedua kalinya.... tentulah ia
tidak akan menemukan kebahagiaannya...
Jadi, yakinlah bahwa apapun kondisi yang Allah "takdirkan" kepada kita, pasti
ada "hikmah besar" dibalik itu semua. Oleh karenanya, jalanilah kehidupan ini
dengan lapang dada, penuh kepositifan, berusaha memberikan yang terbaik kepada
orang lain, serta selalu meminta kepada yang Maha Segalanya.....
Wallahu A'lam
Ayahnya adalah seorang pemintal yang sukses. Suatu hari ayahnya akan mengadakan
perjalanan jauh untuk memasarkan hasil pintalannya dan juga untuk mengajak
Fatimah berlayar "mencari" pendamping hidup Fatimah, yang shaleh dan tampan...
Mereka berlayar melalui pulau-pulau. Sang Ayah berdagang, sedang Fatimah
mendambakan seorang suami yang shaleh dan tampan... Namun saat berlayar menuju
Krete, kapalnya diterjang badai. Kapal pun hancur dan Fatimah tidak sadarkan
diri. Saat tersadar, Fatimah sudah terbaring di pantai Alexandria. Sang Ayah dan
semua awak kapal tewas. Fatimah sangat sedih, ia benar-benar menjadi miskin dan
hidup seorang diri.
Ketika Fatimah menelusuri pantai, sebuah keluarga pembuat kain menemukannya.
Diajaknya Fatimah ke rumah dan diajarinya ia membuat kain. Itulah kehidupan
kedua yang dijalani Fatimah. Lama-kelamaan Fatimah menjadi batah dan bahagia. Ia
pun menjadi sangat mahir untuk membuat kain. Dan dia pun sudah melupakan
penderitaannya.
Suatu hari, saat Fatimah sedang berada di pantai, sekelompok pedagang budak
mendarat dan membawa Fatimah pergi bersama tawanan-tawanan yang lain. Fatimah
dibawa ke Istambul untuk dijual sebagai budak. Dunianya runtuh untuk kedua
kalinya. Beberapa pembeli telah berkumpul untuk memilih budak-budak. Salah
seorang membawa Fatimah untuk dijadikan pembantu istrinya. Orang itu sebenarnya
sedang mencari budak untuk dipekerjakan membuat tiang-tiang kapal, namun ketika
melihat Fatimah dia merasa iba dan mencoba untuk menolongnya.
Malang tak dapat ditolak, di perjalanan mereka bertemu dengan rombongan
perompak. Semua harta miliknya dirampas. Uang yang disimpan di petipun digondol,
sehingga ia tidak bisa membayar tukang-tukang kayu yang bekerja. Mereka jatuh
miskin. Dan Fatimah Fatimah terpaksa membantu belajar membuat tiang-tiang kapal,
sebuah pekerjaan yang kasar untuk ukuran seorang gadis cantik dan lembut seperti
Fatimah. Namun ia jalani kehidupan itu, hingga akhirnya iapun mahir membuat
tiang-tiang kapal.
Walau begitu, Fatimah berterima kasih pada majikannya, karena telah
menyelematkannya dari gerombolan penjual budak yang kasar dan kejam. Dan karena
ketekunan dan kerajinannya, sang majikan memberi kepercayaan besar pada Fatimah,
sehingga Fatimah sangat bahagia untuk yang ketiga kalinya.
Suatu hari, majikannya berkata, "Fatimah, aku ingin kamu pergi dengan kargo
berisi tiang-tiang kapal ke Pulau Jawa sebagai agenku, dan pastikan kau
menjualnya dengan harga yang baik dan keuntungan yang besar." Fatimah pun
mengiyakannya dan dengan langkah mantap, serta diawali dengan bismillahi
tawakkaltu alallah.. La haula wala quwwawta illa billah.. ia berangkat.
Ketika kapalnya melewati Laut Cina, kapalnya dihantam topan besar. Fatimah
mendapatinya dirinya, lagi-lagi terdampar di sebuah pantai, di kepulauan yang
asing baginya. Fatimah kembali meratapi nasibnya yang bertubi-tubi ditimpa
kemalangan; ketika semua tampak lancar, sesuatu muncul dengan tiba-tiba dan
menghancurkannya. Itulah kehidupannya. Dan sebagai seorang manusia biasa
terkadang rasa putus asa menerpanya. "Mengapa nasibku seperti ini, mengapa?"
Fatimah meratapi nasibnya, namun ketika teringat, ia segera beristighfar meminta
ampunan kepada Allah. Ia yakin, pasti ada hikmah besar di balik segala
penderitaannya tersebut. Fatimah pun melangkah ke Pedalaman.
Saat itu di Cina tak seorang pun mendengar cerita tentang Fatimah atau
mengenalnya. Tetapi ada legenda yang berdar di sana, bahwa sautu hari akan
datang seorang perempuan asing yang mampu membuat tenda istimewa untuk sang
Kaisar. Tak seorang pun di Cina yang mampu membuat tenda, maka mereka berharap
hal ini akan terwujud.
Dalam upaya ini, sang Kaisar telah berusaha, agar setiap ada perempuan asing
yang datang, untuk dihadapkan kepada Kaisar. Setahun sekali, sang Kaisar
mengirimkan tentaranya ke seluruh pelosok negeri, mencari sang wanita asing yang
dinanti-nanti...
Ketika Fatimah memasuki sebuah kota di Pantai Cina, maka melalui penerjemah
mereka mewajibkan Fatimah untuk menghadap sang Kaisar ke Istana. "Bisakah kamu
membuat tenda?" tanyak sang Kaisar ketika Fatimah menghadap kepadanya. "Ya, saya
bisa Tuan." Jawab Fatimah lembut.
Fatimah meminta seutas tali, namun tak seorang pun memilikinya. Ia pun segera
mengumpulkan batang rami, dan memintalnya menjadi untaian tali. Ia teringat saat
membantu ayahnya sebagai pemintal tali.
Lalu Fatimah meminta kain, namun tak seorang pun yang mengenal kain. Maka
Fatimah dengan pengalamannya di Alexandria, pada sebuah keluarga yang
menolongnya, iapun meyiapkan diri untuk membuat kain yang bagus dan kuat.
Fatimah kemudian meminta tiang, namun ketika itu tidak ada sebuah tiapun di
negeri Cina. Fatimah dengan pengalamannya bekerja dengan tukang pembuat tiang
kapal di Istambul, mulai mencari batang kayu dan menyiapkannya menjadi tiang.
Dan ketika semuanya telah siap, Fatimah memutar kembali pengalamannya selama
dalam perjalanan, tentang tenda-tenda yang pernah dilihatnya, sejauh
perjalanannya menjelajahi manis pahitnya dunia... Akhirnya, dengan ketekunan,
keuletan, kesabaran dan ketelitiannya jadilah sebuah tenda yang kuat dan sangat
indah...
Ketika melihat tenda buatan Fatimah, semua orang terkagum-kagum. Sang Kaisar
yang tampan menawarkan akan memberi apa saja yang diinginkan Fatimah. Fatimah
akhirnya memilih untuk tinggal di Negeri Cina dan menikah dengan Pangeran yang
tampan, yang kemudian hari menjadi seorang pangeran yang sangat shaleh... Mereka
hidup bagiah dikelilingi anak-anak mereka yang shaleh dan shalehah....
Melalui petualangan-petualangan inilah Fatimah sadar, bahwa
pengalaman-pengalaman yang tampak tidak menyenangkan, berubah menjadi bagian
penting dalam kebahagiaan dan kesuksesan hidupnya....
Dikutip dari buku Time To Change, Hari Subagya. Dengan sedikit perubahan pada
beberapa alur kisah dan redaksinya, agar sesuai dengan kondisi "ke-kitaan".
Catatan :
Sekiranya Fatimah tidak dihantam ombak yang besar, yang mengakibatkannya
terdampar sebatang kara di Alexandria.... Sekiranya Fatimah tidak dibawa para
pencari budak, dan dijual di Istambul... Sekiranya orang yang iba dan
menolongnya di Istambul tidak dirampok oleh sekawanan perompak... Sekiranya
Fatimah tidak dihantam ombak dan terdampar untuk kedua kalinya.... tentulah ia
tidak akan menemukan kebahagiaannya...
Jadi, yakinlah bahwa apapun kondisi yang Allah "takdirkan" kepada kita, pasti
ada "hikmah besar" dibalik itu semua. Oleh karenanya, jalanilah kehidupan ini
dengan lapang dada, penuh kepositifan, berusaha memberikan yang terbaik kepada
orang lain, serta selalu meminta kepada yang Maha Segalanya.....
Wallahu A'lam
Rabu, 19 November 2008
Kisah Dahsyatnya "Kepepet"....
Ada seorang raja yang memiliki anak gadis sangat cantik jelita dan shalehah luar
biasa. Tidak seorang pun pemuda yang hidup di negeri itu, melainkan ia
mendambakan dalam hatinya untuk menjadi pendamping setia si gadis putri raja
semata wayang itu. Bukan hanya karena ia seorang putri raja yang cantik, namun
ia juga sangat shalehah, baik hati, pandai, cerdas dan juga tentunya manawan
hati...
Di usianya yang sudah senja, Raja yang sangat bijaksana itu berkeinginan untuk
mencari pengganti dirinya sebagai raja, sekaligus tentunya yang akan menjadi
menantu alias suami putri tunggal kesayangannya tersebut. Sebagai raja, ia
sangat bisa untuk menunjuk orang mana saja yang disukainya atau yang dianggapnya
memiliki kemampuan untuk memimpin negerinya sebagai seorang raja. Namun, karena
ia sangat bijaksana, cara itu tidak ditempuhnya.
Raja memilih untuk memberikan kesempatan kepada seluruh pemuda yang ada
dinegerinya, untuk menjadi menantunya. Lalu dibuatlah pengumuman, bahwa siapa
saja yang berkeinginan untuk menjadi suami dari anak perempuan kesayangannya dan
sekaligus menjadi raja, maka silakan untuk mengikuti kompetisi kerajaan yang
akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Mendengar kesempatan yang sangat
berharga itu, semua pemuda berbondong-bondong mendaftarkan dirinya ke Istana.
Pada hari yang telah ditentukan untuk kompetisi, Raja dan putri kesayangannya
berdiri di tepi sebuah telaga yang cukup luas. Lalu Raja mengumumkan seperti apa
kompetisi tersebut. Raja meminta kepada para pemuda yang ingin menjadi suami
sang putri, untuk berenang menyeberangi telaga dari sisi yang berlawanan dari
tempat Raja dan putrinya berdiri. Siapa yang paling cepat sampai ke tepi bagian
Raja dan putrinya berdiri, maka dialah yang akan menjadi suami putrinya.
Mendengar kompetisi tersebut, semua pemuda merasa dirinyalah yang paling bisa
dan akan menjadi pemenangnya serta mereka merasa tidak sabar untuk segera
memulai berenang menyeberangi telaga. Namun sebelum mereka berenang, tiba-tiba
ada beberapa petugas kerajaan yang melemparkan potongan-potongan daging ke dalam
telaga, dan tiba-tiba dari dalam telaga tersebut muncul ratusan buaya ganas
berukuran besar dan bergigi tajam yang dengan ganasnya memakan daging-daging
tersebut.
Melihat fenomena tersebut, para pemuda yang semula sangat antusias untuk
berenang ke telaga, mengurungkan niatnya. Nyali mereka menjadi "ciut" melihat
betapa ganasnya buaya-buaya tersebut melalap daging yang dilemparkan kepada
mereka. Bahkan sesekali buaya-buaya mengeluarkan suara yang semakin menciutkan
niatan para pemuda. Semua pemuda terdiam dan terpaku. Mereka diam seribu basa.
Tidak ada yang terdengar, melainkan suara raungan buaya yang berebut memakan
daging, membuat suasana menjadi semakin mencekam...
Tiba-tiba pada saat yang menakutkan itu, terdapat seorang pemuda yang terlihat
masuk ke dalam telaga. Ia berenang ke kiri dan kanan, memukul, menendang,
menghindar, dan terkadang naik ke atas punggung buaya. Meskipun dikepung dari
berbagai arah, ia tetap terus berusaha keras... nafasnya terengah-engah, namun
semua mata menyaksikan bagaimana pemuda ini benar-benar berjuang habis-habisan
untuk bisa menyeberangi telaga penuh buaya itu.... Nyaris saja, kepalanya masuk
ke mulut buaya, lantaran ia melompat menghindari buaya yang ada di depannya,
namun ternyata di sampingnya sudah terdapat buaya besar dengan mulut terbuka
lebar tepat di depan matanya. Sekiranya ia tidak "nekat" memukul keras bagian
kepala dekat mata buaya tersebut, tentulah kepalanya akan menjadi santapan sang
buaya.
Akhirnya, setelah berjuang keras yang nyaris mengorbankan nyawanya, sang pemuda
tiba diseberang telaga, tepat di posisi sang Raja dan Putrinya berdiri... Raja
tersenyum dan memberikan tepuk tangan, yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan
para peserta dan hadiri yang hadir dalam kompetisi tersebut. Suara terompet dan
gendang pun turut mengiringi keberhasilan sang pemuda, dan tidak sedikit
orang-orang yang bersorak-sorak menyambut kemenangan sang pemuda tersebut....
Raja memberikan selamat dan mengumumkan kepada para hadirin, bahwa pemuda inilah
yang menjadi pemenangnya dan akan menjadi pendamping hidup putri raja sekaligus
juga akan menjadi Raja untuk menggantikan dirinya. Lalu Raja mempersilakan
kepada pemuda tampan tersebut yang juga ternyata sebagai seorang pemuda yang
shaleh, apakah ia berkenan untuk memberikan sambutan atau pidato, atau apapun
kepada para hadirin dan peserta yang lain? Ia pun mengiyakannya.
Ketika naik di atas podium, dan setelah mengucapkan terimakasihnya kepada sang
Raja, ia berkata. "Saya tidak ingin berpidato di atas mimbar ini, saya hanya
ingin bertanya, siapakah tadi di awal kompetisi, yang mendorong saya hingga
menjadikan saya terjatuh masuk ke dalam telaga yang penuh dengan buaya
tersebut?" Siapapun orangnya, saya hanya ingin mengucapkan teriamkasih yang
sebesar-besarnya kepada orang tersebut. Sekiranya tidak ada yang mendorong saya,
tentulah saya tidak akan pernah berada di atas mimbar ini, dan tentunya saya
tidak akan menjadi pemenangnya. Jadi sekali lagi terimakasih....."
Kisah ini saya dengar dari talkshow di 104.6 Trijaya FM dalam acara Life
Exellent bersama Jamil Azzaini pukul 17.00 - 18.00 setiap hari kamis.
Catatan :
Bahwa ternyata "kepepet" itu bisa memunculkan kekuatan dahsyat dalam diri kita.
Dikarenakan kepepet, seseorang yang tidak bisa lari, akan lari tunggung langgang
dengan sangat kencang bahkan bisa melompati pagar yang tinggi sekalipun,
manakala ada seekor anjing besar yang mengejarnya.
Kalau pemuda dalam kisah diatas tidak kepepet dengan terlanjur masuk ke dalam
telaga buaya tersebut (karena didorong oleh orang lain), mungkin ia tidak akan
pernah mendapatkan sang putri dan juga kedudukan sebagai seorang raja...
Jadi, sekiranya Allah SWT mentakdirkan kita dalam suatu suasana yang "kepepet",
maka yakinlah bahwa dibalik itu semua pasti ada hikmah yang bisa kita petik
untuk bekal kehidupan kita di masa yang akan datang......
Wallahu A'lam
biasa. Tidak seorang pun pemuda yang hidup di negeri itu, melainkan ia
mendambakan dalam hatinya untuk menjadi pendamping setia si gadis putri raja
semata wayang itu. Bukan hanya karena ia seorang putri raja yang cantik, namun
ia juga sangat shalehah, baik hati, pandai, cerdas dan juga tentunya manawan
hati...
Di usianya yang sudah senja, Raja yang sangat bijaksana itu berkeinginan untuk
mencari pengganti dirinya sebagai raja, sekaligus tentunya yang akan menjadi
menantu alias suami putri tunggal kesayangannya tersebut. Sebagai raja, ia
sangat bisa untuk menunjuk orang mana saja yang disukainya atau yang dianggapnya
memiliki kemampuan untuk memimpin negerinya sebagai seorang raja. Namun, karena
ia sangat bijaksana, cara itu tidak ditempuhnya.
Raja memilih untuk memberikan kesempatan kepada seluruh pemuda yang ada
dinegerinya, untuk menjadi menantunya. Lalu dibuatlah pengumuman, bahwa siapa
saja yang berkeinginan untuk menjadi suami dari anak perempuan kesayangannya dan
sekaligus menjadi raja, maka silakan untuk mengikuti kompetisi kerajaan yang
akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Mendengar kesempatan yang sangat
berharga itu, semua pemuda berbondong-bondong mendaftarkan dirinya ke Istana.
Pada hari yang telah ditentukan untuk kompetisi, Raja dan putri kesayangannya
berdiri di tepi sebuah telaga yang cukup luas. Lalu Raja mengumumkan seperti apa
kompetisi tersebut. Raja meminta kepada para pemuda yang ingin menjadi suami
sang putri, untuk berenang menyeberangi telaga dari sisi yang berlawanan dari
tempat Raja dan putrinya berdiri. Siapa yang paling cepat sampai ke tepi bagian
Raja dan putrinya berdiri, maka dialah yang akan menjadi suami putrinya.
Mendengar kompetisi tersebut, semua pemuda merasa dirinyalah yang paling bisa
dan akan menjadi pemenangnya serta mereka merasa tidak sabar untuk segera
memulai berenang menyeberangi telaga. Namun sebelum mereka berenang, tiba-tiba
ada beberapa petugas kerajaan yang melemparkan potongan-potongan daging ke dalam
telaga, dan tiba-tiba dari dalam telaga tersebut muncul ratusan buaya ganas
berukuran besar dan bergigi tajam yang dengan ganasnya memakan daging-daging
tersebut.
Melihat fenomena tersebut, para pemuda yang semula sangat antusias untuk
berenang ke telaga, mengurungkan niatnya. Nyali mereka menjadi "ciut" melihat
betapa ganasnya buaya-buaya tersebut melalap daging yang dilemparkan kepada
mereka. Bahkan sesekali buaya-buaya mengeluarkan suara yang semakin menciutkan
niatan para pemuda. Semua pemuda terdiam dan terpaku. Mereka diam seribu basa.
Tidak ada yang terdengar, melainkan suara raungan buaya yang berebut memakan
daging, membuat suasana menjadi semakin mencekam...
Tiba-tiba pada saat yang menakutkan itu, terdapat seorang pemuda yang terlihat
masuk ke dalam telaga. Ia berenang ke kiri dan kanan, memukul, menendang,
menghindar, dan terkadang naik ke atas punggung buaya. Meskipun dikepung dari
berbagai arah, ia tetap terus berusaha keras... nafasnya terengah-engah, namun
semua mata menyaksikan bagaimana pemuda ini benar-benar berjuang habis-habisan
untuk bisa menyeberangi telaga penuh buaya itu.... Nyaris saja, kepalanya masuk
ke mulut buaya, lantaran ia melompat menghindari buaya yang ada di depannya,
namun ternyata di sampingnya sudah terdapat buaya besar dengan mulut terbuka
lebar tepat di depan matanya. Sekiranya ia tidak "nekat" memukul keras bagian
kepala dekat mata buaya tersebut, tentulah kepalanya akan menjadi santapan sang
buaya.
Akhirnya, setelah berjuang keras yang nyaris mengorbankan nyawanya, sang pemuda
tiba diseberang telaga, tepat di posisi sang Raja dan Putrinya berdiri... Raja
tersenyum dan memberikan tepuk tangan, yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan
para peserta dan hadiri yang hadir dalam kompetisi tersebut. Suara terompet dan
gendang pun turut mengiringi keberhasilan sang pemuda, dan tidak sedikit
orang-orang yang bersorak-sorak menyambut kemenangan sang pemuda tersebut....
Raja memberikan selamat dan mengumumkan kepada para hadirin, bahwa pemuda inilah
yang menjadi pemenangnya dan akan menjadi pendamping hidup putri raja sekaligus
juga akan menjadi Raja untuk menggantikan dirinya. Lalu Raja mempersilakan
kepada pemuda tampan tersebut yang juga ternyata sebagai seorang pemuda yang
shaleh, apakah ia berkenan untuk memberikan sambutan atau pidato, atau apapun
kepada para hadirin dan peserta yang lain? Ia pun mengiyakannya.
Ketika naik di atas podium, dan setelah mengucapkan terimakasihnya kepada sang
Raja, ia berkata. "Saya tidak ingin berpidato di atas mimbar ini, saya hanya
ingin bertanya, siapakah tadi di awal kompetisi, yang mendorong saya hingga
menjadikan saya terjatuh masuk ke dalam telaga yang penuh dengan buaya
tersebut?" Siapapun orangnya, saya hanya ingin mengucapkan teriamkasih yang
sebesar-besarnya kepada orang tersebut. Sekiranya tidak ada yang mendorong saya,
tentulah saya tidak akan pernah berada di atas mimbar ini, dan tentunya saya
tidak akan menjadi pemenangnya. Jadi sekali lagi terimakasih....."
Kisah ini saya dengar dari talkshow di 104.6 Trijaya FM dalam acara Life
Exellent bersama Jamil Azzaini pukul 17.00 - 18.00 setiap hari kamis.
Catatan :
Bahwa ternyata "kepepet" itu bisa memunculkan kekuatan dahsyat dalam diri kita.
Dikarenakan kepepet, seseorang yang tidak bisa lari, akan lari tunggung langgang
dengan sangat kencang bahkan bisa melompati pagar yang tinggi sekalipun,
manakala ada seekor anjing besar yang mengejarnya.
Kalau pemuda dalam kisah diatas tidak kepepet dengan terlanjur masuk ke dalam
telaga buaya tersebut (karena didorong oleh orang lain), mungkin ia tidak akan
pernah mendapatkan sang putri dan juga kedudukan sebagai seorang raja...
Jadi, sekiranya Allah SWT mentakdirkan kita dalam suatu suasana yang "kepepet",
maka yakinlah bahwa dibalik itu semua pasti ada hikmah yang bisa kita petik
untuk bekal kehidupan kita di masa yang akan datang......
Wallahu A'lam
Selasa, 18 November 2008
Saya Ingin Seperti Ayah
Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di
sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu
sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.
Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita,
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima
kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta
tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah
anaknya yang bekerja di sana.
Di situlah awal pembicaraan ‘menyimpang’ dimulai. Ia mengeluh, “Susah anak saya
ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya
telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih
banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau Anda jarang bertemu dengan
anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang
tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya
jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”
Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,
“Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan
hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”
Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para
profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.
Suami saya bertanya, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti
mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu
berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair
tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan
untuk konteks Indonesia.
Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali
ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah
Namun aku tahu betul ia pernah berkata, “Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, “Terima kasih atas
hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara
melempar bola” “Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan
sekarang” Ia hanya berkata, “Oh ….” Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak
hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku”.
“Ya, betul aku akan sepertinya”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku
memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah
meminjam mobil, mana kuncinya?” ”Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji
dengan kawan”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Aku sudah lama pensiun dan anakku sudah lama pergi dari rumah; Suatu saat aku
meneleponnya. “Aku ingin bertemu denganmu, Nak” Ia bilang, “Tentu saja aku
senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku
begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa
berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis
seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku. Rupanya prinsip
investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil
mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang
diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa
aslinya,
“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”, kapan saja ketika
suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. Ternyata cukup manjur.
“Lutfi … ayo kita kasih makan kelinci,” katanya kepada anak kami yang berusia 3
tahun.
Prinsip diatas dapat kita terapkan dalam kehidupankita sehari hari maupun dalam
tugas kerja kita mengembangkan manusia yang menjadi tanggung jawab kita ataupun
bawahan kita. Apabila kita mempunyai bawahan dengan kwalitas kerja yang kurang
atau dibawah standard maka…… sadarlah bahwa kejadian ini mungkin merupakan
refleksi atau bentukan dari diri kita sendiri jadi jangan salahkan mereka….
jangan mem “vonis” mereka tapi coba cari titik awal timbulnya masalah, dan coba
introspeksi.
Dikutip dari Jamil Azzaini.
mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di
sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu
sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa senja usia.
Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita,
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk itu saya merasa berterima
kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Inilah kira-kira kisah mereka.
Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta
tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah
anaknya yang bekerja di sana.
Di situlah awal pembicaraan ‘menyimpang’ dimulai. Ia mengeluh, “Susah anak saya
ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya
telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih
banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”
Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau Anda jarang bertemu dengan
anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang
tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”
“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya
jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”
Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak
laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.
Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya,
“Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan
hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”
Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan
kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para
profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.
Suami saya bertanya, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti
mereka?” Untuk menjawab itu, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu
berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair
tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan
untuk konteks Indonesia.
Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah. Aku harus siap
untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah sampai ‘tak ingat kapan pertama kali
ia belajar melangkah. Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah
Namun aku tahu betul ia pernah berkata, “Aku akan menjadi seperti Ayah kelak”
“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Ketika saat anakku ulang tahun yang kesepuluh; Ia berkata, “Terima kasih atas
hadiah bolanya Ayah, wah … kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara
melempar bola” “Tentu saja ‘Nak, tetapi jangan sekarang, Ayah banyak pekerjaan
sekarang” Ia hanya berkata, “Oh ….” Ia melangkah pergi, tetapi senyumnya tidak
hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku”.
“Ya, betul aku akan sepertinya”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah; Begitu gagahnya ia, dan aku
memanggilnya, “Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan Ayah”
Dia menengok sebentar sambil tersenyum, “Ayah, yang aku perlu sekarang adalah
meminjam mobil, mana kuncinya?” ”Sampai bertemu nanti Ayah, aku ada janji
dengan kawan”
“Ayah, jam berapa nanti pulang?” “Aku tak tahu ‘Nak, tetapi kita akan punya
waktu bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”
Aku sudah lama pensiun dan anakku sudah lama pergi dari rumah; Suatu saat aku
meneleponnya. “Aku ingin bertemu denganmu, Nak” Ia bilang, “Tentu saja aku
senang bertemu Ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu. Ayah tahu, pekerjaanku
begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu. Tetapi senang bisa
berbicara dengan Ayah, betul aku senang mendengar suara Ayah”
Ketika ia menutup teleponnya, aku sekarang menyadari; Dia tumbuh besar persis
seperti aku; Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku. Rupanya prinsip
investasi berlaku pula pada keluarga dan anak. Seorang investor yang berhasil
mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang
diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa
aslinya,
“I’m gonna be like you, Dad, you know I’m gonna be like you”, kapan saja ketika
suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. Ternyata cukup manjur.
“Lutfi … ayo kita kasih makan kelinci,” katanya kepada anak kami yang berusia 3
tahun.
Prinsip diatas dapat kita terapkan dalam kehidupankita sehari hari maupun dalam
tugas kerja kita mengembangkan manusia yang menjadi tanggung jawab kita ataupun
bawahan kita. Apabila kita mempunyai bawahan dengan kwalitas kerja yang kurang
atau dibawah standard maka…… sadarlah bahwa kejadian ini mungkin merupakan
refleksi atau bentukan dari diri kita sendiri jadi jangan salahkan mereka….
jangan mem “vonis” mereka tapi coba cari titik awal timbulnya masalah, dan coba
introspeksi.
Dikutip dari Jamil Azzaini.
Senin, 17 November 2008
Sebenarnya Kita Kaya
taken from http://warnaislam.com
Usai sholat subuh berjamaah, Fikri bertanya kepada para jamaah, "nomor
sepatunya berapa?" Tentu saja beragam jawabannya, ada yang 39, 41, 42
sampai ada yang 45. Ia bermaksud meminjam sepatu untuk adik sepupunya
yang akan menjalani wawancara pekerjaan di Tangerang.
Fuad, adik sepupunya yang baru datang malam hari dari Bandung,
kehilangan sepatunya saat tengah sholat di masjid depan terminal Leuwi
Panjang, Bandung. Ia hampir tak mengenakan alas kaki berangkat ke
rumah kakaknya di Sawangan, Depok. Beruntung ada orang yang berbaik
hati memberikan sepasang sandal.
Hampir semua jamaah subuh di masjid itu berniat meminjamkan sepatu,
hanya saja yang beruntung mendapat kesempatan beramal shalih sepagi
itu adalah Arif, karena ukuran sepatunya sama persis dengan yang
diinginkan Fuad, yakni 42. Maka, bersegeralah beberapa jamaah
mengantar Fuad ke rumah Arif untuk mencoba sepatu.
Alhamdulillah sepatunya cocok di kaki Fuad, anak muda itu pun terlihat
senang. Terbuka kembali harapannya untuk mendapat pekerjaan.
Sebelumnya Fikri, sang kakak, sempat bertanya dimana toko sepatu yang
buka sebelum jam tujuh pagi. Hampir bisa dipastikan tidak ada toko
yang buka sepagi itu.
"Kaos kakinya punya?" tanya Arif lagi.
Fuad hanya menggeleng kepala, karena kaos kakinya pun ikut hilang
bersama dengan sepatunya. Tanpa banyak bicara, Arif pun bergegas ke
dalam rumahnya dan kembali dengan membawa sepasang kaos kaki. Tidak
hanya itu, Arif keluar rumah sambil membawa beberapa botol susu
instant, "Ini untuk anak-anak di rumah"
"Subhanallah…" serempak kalimat pujian itu keluar dari mulut para
jamaah. Ada seorang jamaah yang berujar, "kita kalah set sama Arif,
sepagi ini sudah beramal shalih, berbagi kebaikan, menolong orang yang
memerlukan, dan membagi rezekinya". Arif hanya tersenyum, tidak
sedikit pun rasa bangga terukir di hatinya.
Sementara itu, usai mencoba sepatu milik Arif, Fuad mengucapkan terima
kasih atas kebaikan saudara barunya itu. "Terima kasih Pak Arif, nanti
setelah pulang wawancara saya akan kembalikan…"
"Tenang saja, dipakai terus pun tidak apa-apa," jawab Arif. Lagi-lagi
kalimat pujian kepada Allah terucap, "Subhanallah…"
Ummat Islam dimanapun sebenarnya kaya raya, tidak ada yang miskin
kecuali ia yang merasa miskin. Sepanjang ia memiliki saudara-saudara
yang perhatian, peduli, dan mengutamakan kepentingan saudaranya.
Sesulit apapun kehidupan ini, akan terasa mudah jika setiap beban
dipikul bersama-sama. Seberat apapun cobaan yang diderita seorang
muslim, jika ia memiliki saudara yang sangat peduli, semua akan
menjadi ringan.
Fragmen seperti kisah Fikri, Fuad dan Arif pasti banyak terjadi di
berbagai tempat. Berbagai episode selalu diputar berulang-ulang dalam
perjalanan kehidupan bermasyarakat di negeri ini bahkan di berbagai
negara lain di seluruh dunia. Membuktikan bahwa ummat Islam tidak
boleh ada yang merasa miskin selama masih ada saudaranya yang tak
bosan membantu. Yang terlihat bukan semangat meminta, melainkan
semangat menolong dan memberi.
Ada semangat untuk saling memberi pertolongan sekecil apapun, jika
mungkin tercipta iklim berlomba untuk lebih dulu memberi. Kesempatan
berbuat baik memang selalu ada, jika bukan kita yang mengambilnya,
orang lain lah yang melakukannya.
Kekayaan sesungguhnya bukan pada apa yang dimiliki dan dinikmati
sendiri, melainkan seberapa banyak yang bisa dirasakan oleh saudara
dan lingkungan sekitarnya. Kekayaan sebenarnya bukan pada apa yang ada
di genggaman, melainkan tertanam dalam hati yang semakin terhibur
setiap kali membantu sesama. (gaw/tulisan ini juga bisa dilihat di
http://dompetdhuafa.or.id)
Usai sholat subuh berjamaah, Fikri bertanya kepada para jamaah, "nomor
sepatunya berapa?" Tentu saja beragam jawabannya, ada yang 39, 41, 42
sampai ada yang 45. Ia bermaksud meminjam sepatu untuk adik sepupunya
yang akan menjalani wawancara pekerjaan di Tangerang.
Fuad, adik sepupunya yang baru datang malam hari dari Bandung,
kehilangan sepatunya saat tengah sholat di masjid depan terminal Leuwi
Panjang, Bandung. Ia hampir tak mengenakan alas kaki berangkat ke
rumah kakaknya di Sawangan, Depok. Beruntung ada orang yang berbaik
hati memberikan sepasang sandal.
Hampir semua jamaah subuh di masjid itu berniat meminjamkan sepatu,
hanya saja yang beruntung mendapat kesempatan beramal shalih sepagi
itu adalah Arif, karena ukuran sepatunya sama persis dengan yang
diinginkan Fuad, yakni 42. Maka, bersegeralah beberapa jamaah
mengantar Fuad ke rumah Arif untuk mencoba sepatu.
Alhamdulillah sepatunya cocok di kaki Fuad, anak muda itu pun terlihat
senang. Terbuka kembali harapannya untuk mendapat pekerjaan.
Sebelumnya Fikri, sang kakak, sempat bertanya dimana toko sepatu yang
buka sebelum jam tujuh pagi. Hampir bisa dipastikan tidak ada toko
yang buka sepagi itu.
"Kaos kakinya punya?" tanya Arif lagi.
Fuad hanya menggeleng kepala, karena kaos kakinya pun ikut hilang
bersama dengan sepatunya. Tanpa banyak bicara, Arif pun bergegas ke
dalam rumahnya dan kembali dengan membawa sepasang kaos kaki. Tidak
hanya itu, Arif keluar rumah sambil membawa beberapa botol susu
instant, "Ini untuk anak-anak di rumah"
"Subhanallah…" serempak kalimat pujian itu keluar dari mulut para
jamaah. Ada seorang jamaah yang berujar, "kita kalah set sama Arif,
sepagi ini sudah beramal shalih, berbagi kebaikan, menolong orang yang
memerlukan, dan membagi rezekinya". Arif hanya tersenyum, tidak
sedikit pun rasa bangga terukir di hatinya.
Sementara itu, usai mencoba sepatu milik Arif, Fuad mengucapkan terima
kasih atas kebaikan saudara barunya itu. "Terima kasih Pak Arif, nanti
setelah pulang wawancara saya akan kembalikan…"
"Tenang saja, dipakai terus pun tidak apa-apa," jawab Arif. Lagi-lagi
kalimat pujian kepada Allah terucap, "Subhanallah…"
Ummat Islam dimanapun sebenarnya kaya raya, tidak ada yang miskin
kecuali ia yang merasa miskin. Sepanjang ia memiliki saudara-saudara
yang perhatian, peduli, dan mengutamakan kepentingan saudaranya.
Sesulit apapun kehidupan ini, akan terasa mudah jika setiap beban
dipikul bersama-sama. Seberat apapun cobaan yang diderita seorang
muslim, jika ia memiliki saudara yang sangat peduli, semua akan
menjadi ringan.
Fragmen seperti kisah Fikri, Fuad dan Arif pasti banyak terjadi di
berbagai tempat. Berbagai episode selalu diputar berulang-ulang dalam
perjalanan kehidupan bermasyarakat di negeri ini bahkan di berbagai
negara lain di seluruh dunia. Membuktikan bahwa ummat Islam tidak
boleh ada yang merasa miskin selama masih ada saudaranya yang tak
bosan membantu. Yang terlihat bukan semangat meminta, melainkan
semangat menolong dan memberi.
Ada semangat untuk saling memberi pertolongan sekecil apapun, jika
mungkin tercipta iklim berlomba untuk lebih dulu memberi. Kesempatan
berbuat baik memang selalu ada, jika bukan kita yang mengambilnya,
orang lain lah yang melakukannya.
Kekayaan sesungguhnya bukan pada apa yang dimiliki dan dinikmati
sendiri, melainkan seberapa banyak yang bisa dirasakan oleh saudara
dan lingkungan sekitarnya. Kekayaan sebenarnya bukan pada apa yang ada
di genggaman, melainkan tertanam dalam hati yang semakin terhibur
setiap kali membantu sesama. (gaw/tulisan ini juga bisa dilihat di
http://dompetdhuafa.or.id)
Langganan:
Postingan (Atom)
